Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya.
Tetapi, tak jarang, anak itu
meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat!
bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa,
sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar?
Bukan. Bukan salah kita. Secara
alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan
positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan,
yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada
keburukan.
*
Kristen kanak-kanak mirip
dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan,
TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa,
dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka.
Bukan. Bukan salah TUHAN.
Dia hanya kena getahnya.
Manusia kerap tak sadar bahwa
TUHAN sedang berjuang habis-habisan untuk menyelamatkan. Tak insyaf bahwa TUHAN
sedang berupaya untuk menolong, bukan mencelakakan. Bahwa TUHAN …menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya
yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan
kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik (Ams. 2:8-9, LAI-TB).
Selamat merelakan hati saat
melihat larangan TUHAN.
Komentar
Posting Komentar