Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

LAUT MENGANDUNG GARAM, TAPI IKAN LAUT KOQ TIDAK ASIN?

  Ketika kita perhatikan, ikan laut adalah fenomena menarik. Ia hidup di air laut yang memiliki kadar garam lebih tinggi daripada air tawar. Anehnya, ketika dimasak, ikan laut tak terasa asin. Karena itu, kita masih harus menambahkan garam. Mengapa? Insang. Ikan laut punya insang yang berfungsi untuk pernapasan, sekaligus memisahkan garam dan memompanya keluar dari tubuh, sehingga kadar garam di dalam tubuh tetap normal. * Inilah perbedaan kita dengan ikan laut. Insang. Kita tak punya insang. Jadinya, lingkungan memiliki pengaruh besar atas kita. Bahkan, membentuk pikiran dan, kemudian, karakter kita. Maka, pilihlah lingkungan yang tepat. Mari berkumpul dengan sesama orang percaya sebagai Gereja. Bukan sekadar pergi ke gereja, lebih lagi, mari berkomunitas saling mendukung satu sama lain. Bersekutu adalah cara alkitabiah agar kita menang dalam iman dan panggilan Kristus. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor. 15:33). Ingat, kita tak punya insang. Just show me ...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

"CUT!"

Di tengah syuting sebuah adegan film, si aktor tiba-tiba berseru, “ Cut! ” Semua orang di lokasi terkejut. Sutradara berteriak, “Ada apa?” Si aktor menjawab, “Adegan saya sudah selesai. Sudah bagus tadi itu. Sempurna. Saya suka. Sekarang, kita bisa lanjut ke scene berikutnya.” Sang sutradara berubah air mukanya. “Apa-apaan? Saya sutradaranya. Saya yang tentukan sebuah adegan pantas diambil atau perlu diulang. Saya penilainya, saya yang putuskan cut atau action . Itu hak saya. Tugas Anda lakukan akting saja. Saya yang menilai akting Anda.” Si aktor tak mau kalah, “Tak bisa begitu. Itu tidak adil. Saya juga punya suara. Saya aktornya.” Sambil berdiri dan beranjak pergi, sang sutradara berkata, “ Cut! Beri saya aktor lain.” * Ha ha ha … begitulah jadinya ketika seorang aktor menganggap dirinya sutradara. Hanya sutradara yang berhak mengatakan Cut! Lain tidak. Sebab, sutradaralah yang memiliki pandangan luas, yakni keseluruhan cerita. Dia mewujudkan naskah di atas kertas ...

TANAMAN KELOR & Kisah Mimpi-mimpi yang Dipatahkan

Sebatang kelor ditanam di lahan baru. Segera saja, ia bertumbuh dan meninggi. Daun-daunnya lebat nan segar. Ia puas dengan keberadaannya. Hingga suatu saat, pemilik memotongnya. Ya, ampun. Apa yang engkau lakukan? Diam tanpa daya, ia melihat batang tingginya dipangkas menjadi separuh. Dedaunannya dirontokkan. Luka-luka mengalirkan getah darah seperti tak ‘kan tersembuhkan. Tertegun dalam hening, ia sedih. Menatap ia pada pohon kelor besar dan gagah beberapa meter darinya. Tegak, kuat, tangguh menatap langit. Dalam hati timbul cemburu. Mengapa bukan pohon itu? Mengapa aku? Rintihnya dalam sendu, sendirian. Tiga bulan, dan ia bersemi lagi. Daun-daunnya lebih segar, lebih lebat. Batangnya mulai menguat, tingginya pun membanggakan. Ia tersenyum. Hingga, pemilik datang. Ya, ampun. Jangan lagi. Batangnya dipotong. Daun-daunnya digugurkan. Apa yang engkau lakukan? Apa yang salah kulakukan? Mengapa mimpi-mimpiku mencapai awan ditebas, mengapa impian-impianku meraih bintang dipangkas? Ta...

LIVE ON STAGE

Mau konser biola? Anda berlatih dulu. Mau lari maraton? Anda berlatih dulu. Mau lomba pidato? Mau khotbah? Mau ujian sekolah? Anda berlatih dulu. Sebelum hari-H. Sebelum jam-J. Tapi, dengan hidup… beda. Tiba-tiba Anda sudah di atas panggung. Alat musik sudah di tangan.  Penonton duduk berjajar. Mereka menanti. Berharap. Anda menatap. Tertekan. Harus langsung bermain.  Tak ada latihan. Tak ada pemanasan. Tak ada persiapan. Harus langsung bermain. Panggung adalah satu-satunya tempat. Tak ada yang lain. Anda pun memainkannya… Di satu kesempatan, penonton bertepuk tangan: “Bagus!” “ Bravo !” “Indahnya!” Di momen lain, mencibir: “Sampah!” “Jelek!” “Buang-buang waktu saja.” Di satu saat, Anda diganjar rangkaian bunga. Di waktu lain, dilempar tomat—sekalian botolnya. Entah mana dilemparkan, entah mana dilontarkan,  Anda tetap bermain. Pengenalan dan penyempurnaan berlangsung di atas panggung. Tak ada tempat lain. Titik-titik peluh, butir-butir air mata, Anda tetap bermain. Darah...

KECURIAN JEMURAN

Seorang anak menemukan sehelai kain sutra di tengah jalan. Kotor oleh ban mobil dan motor, debu dan sepatu. Ia pungut dan bawa pulang. Dicucinya bersih. Dicelup hati-hati dalam air sabun, dan diangkat. Kotoran keluar. Indah. Terlihat lagi kilau sutra itu. Si anak puas dengan hasil kerjanya. Ia jemur kain itu di luar. Sekadar diangin-angin. Ia masuk ke dalam rumah. Sore hari, kain hendak diambil. Betapa terkejut… sutra itu hilang. Raib entah ke mana atau siapa mengambilnya. Anak itu menangis… sendiri menyesali jerih payahnya. * Kesia-siaan belaka , seru sang pengkhotbah, Kesia-siaan belaka . Kain sutra dipungut dan dicelup di air sabun, hanya untuk dibiarkan tercuri setelah bersih. Mengingatkan pada perjuangan habis-habisan menginjili orang. Setelah bertobat, kita baptis. Lalu, kita biarkan dia sendirian. Menghadapi ganas dunia tanpa teman. Menjalani iman tanpa kawan seperjalanan. Bahkan terasing di rumah ibadah tanpa sahabat. Sampai musuh menerkamnya. Dan, jerih payah pun sia-sia. Hany...