Mau konser biola? Anda berlatih dulu.
Mau lari maraton? Anda berlatih dulu.
Mau lomba pidato? Mau khotbah? Mau ujian sekolah? Anda berlatih dulu.
Sebelum hari-H. Sebelum jam-J.
Tapi, dengan hidup… beda.
Tiba-tiba Anda sudah di atas panggung. Alat musik sudah di tangan.
Penonton duduk berjajar.
Mereka menanti.
Berharap.
Anda menatap.
Tertekan.
Harus langsung bermain.
Tak ada latihan. Tak ada pemanasan. Tak ada persiapan.
Harus langsung bermain.
Panggung adalah satu-satunya tempat.
Tak ada yang lain.
Anda pun memainkannya…
Di satu kesempatan, penonton bertepuk tangan: “Bagus!” “Bravo!” “Indahnya!”
Di momen lain, mencibir: “Sampah!” “Jelek!” “Buang-buang waktu saja.”
Di satu saat, Anda diganjar rangkaian bunga.
Di waktu lain, dilempar tomat—sekalian botolnya.
Entah mana dilemparkan, entah mana dilontarkan,
Anda tetap bermain.
Pengenalan dan penyempurnaan berlangsung di atas panggung.
Tak ada tempat lain.
Titik-titik peluh, butir-butir air mata,
Anda tetap bermain.
Darah dari jari-jemari, kaki lelah berdiri,
Anda tetap bermain.
Pahit penolakan, pedih diabaikan, letih direndahkan,
Anda tetap bermain.
Senyum bangga, sukacita sanjung,
Anda tetap bermain.
Belajar dari yang berpengalaman, memberi semangat yang baru datang,
Anda terus bermain,
sementara memandang sang Dirigen genius pemimpin orkestra.
Kitalah pemain itu.
Di sana. Di atas panggung kehidupan.
Hingga konser berakhir.
Entah komposisi tuntas. Atau panggung ditutup.
Yang mana jua, kita terus bermain.
Sekaligus menyempurnakan permainan.
Di sini. Di atas panggung kehidupan.
Dalam kelumit waktu di antara keabadian.
(Oleh: Paksi Ekanto Putro; disunting untuk blogspot, Sby 11 Jan 2024)
Komentar
Posting Komentar