Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

AYAM BODOH

Pagi hari berkendara menuju kantor. Mendadak, seekor ayam memintas jalan. Awas ! Hampir saja pejantan itu tertabrak mobil. Bulu-bulu sayap kanannya tampak terserak sehelai dua sebagai akibat. Sesampai di seberang, ternyata si pejantan mengejar seekor betina. Bulu-bulu tengkuknya menegak. Marah atau sedang berhasrat? Ayam bodoh! Seloroh seorang kawan. Entah demi kawin atau marah-marah, kau hampir mati karenanya. Aku tersenyum sendiri. Adilkah menyebut si ayam sebagai bodoh? Justru penghormatan itu terlalu tinggi baginya. Mengapa? Karena, meski toh punya otak, ayam tak punya akal. Jadi, tak bisa berpikir. Ia tak punya kemampuan menjadi bodoh, apalagi bijak. Berbeda dengan manusia (?). * Sungguhkah berbeda? Manusia punya otak yang bersifat fisis dan akal yang bersifat mental. Tapi, apakah termanfaatkan? Seringnya, cuma punya otak, tapi tak berakal. Mempertaruhkan nyawa berharga demi perkara tak sepadan. Contoh di jalan: kebut-kebutan, melanggar lampu merah, menyalib dari kiri, d...

ALARM

Pukul 04.30. Alarm berbunyi. Tiga kali. Dia pulas. Tak ada gerakan. Pukul 05.00. Alarm berbunyi. Tiga kali. Tetap pulas. Hanya sedikit ber gerak. Pukul 05.30. W eker berbunyi. Tiga kali. Mulai terusik. Dimatikan. “ Sebentar, ” dalam igau. Pukul 06.00. Alarm dan weker bersama an . Masing-masing tiga kali. Mata terpicing. E nggan, keduanya dimatikan. “ Sedikit lagi ,” dalam hati . Pukul 09.00. Tak ada alarm. Tak ada weker. Dia terjaga. Mengusap mata. Lamat-lamat, benak makin utuh . S adar mengisi nurani. Sontak , dia berdiri , “Ya ampun ! J am berapa?” Ditatapnya jam . T erduduk, dalam sendu, “ Ahhh ,” teriak tertahan . Mata berkaca. Sesal terbit di ulu hati. S esak merayap i kalbu. M endesis lirih, “Sudah berangkat . ” M elirik tiket first class ke Lombok. “Aku tertinggal.” * Alarm berfungsi baik. Weker bekerja sempurna. Tapi, enggan bangun mengacaukan segala. Syukurlah hanya melewatkan liburan. A pa jadinya jika melewatkan kehidupan kekal? Roh Kudus mengusik ke...

KHAN DAN SAHABATNYA

Kaum nomaden di padang gurun Eurasia punya tradisi berburu bersama elang. Genghis Khan (penakluk dari Mongolia) juga. Dia memberinya makan dari tangannya sendiri dan melatihnya. Suatu pagi di musim panas, Khan dan pengawalnya berburu. Mereka membawa busur dan panah. Khan hanya membawa elang kesayangannya di lengan. Elang itu jauh lebih andal, karena bisa terbang dan melihat apa-apa yang tak terlihat mata manusia. Frustrasi karena tidak menemukan apa pun, Khan meninggalkan rombongan. Khan lelah dan haus. Sungai mengering, tak ada air. Tiba-tiba, Khan menemukan aliran dari celah batu. Dia melepas elangnya, dan mengeluarkan cawan perak. Tepat ketika mengangkat cawan, si elang terbang, menepis cawan dari tangan, hingga terjatuh. Khan marah. Dia mengisi lagi. Tapi, elang itu kembali menghempas cawan. Air pun tumpah. Khan mencintai elang itu, tapi tak bisa membiarkan sikap tidak hormat ini. Kalau ada orang melihat, pasti tersiar kabar di tengah prajurit: Khan, sang penakluk agung, ti...

JUJUR SAJA TAK CUKUP

Sebelum kelas dimulai, seorang guru bertanya kepada murid-murid. Guru:   “Siapa yang belum mandi pagi ini? Silahkan angkat tangan.” Murid: (M engangkat tangan sambil tersenyum bangga.) “Saya, pak.” ( Grrr… Murid-murid lain sontak tertawa.) Murid: “Lho, kawan-kawan, saya ini jujur . Yang penting itu jujur. Benar, khan , pak?” Guru:   “Benar . Jujur itu penting.” Murid: “ Tuh , benar khan ?” (Memandang kelas dengan pongah.) Guru:   “Tapi, cukup jujurmu hari ini. Besok, berubahlah. Mandi sebelum ke sekolah.” ( Grrr… Seluruh kelas tertawa lagi. Si murid tersenyum-senyum bak berkata, Siap, laksanakan .) * Jujur memang penting. Tapi, orang sering lupa bahwa jujur hanya langkah awal, bukan tujuan akhir. Kita musti jujur untuk mengakui apa yang masih harus diperbaiki. Tapi, sesudah itu, kita melangkah dalam kerendahan hati untuk berubah . Setelah jujur mengakui, kita perlu merendahkan diri untuk diajar melakukan yang benar. Bukan terus hidup semaunya d...

BELAJAR JADI MANUSIA (DARI SAPI)

Seekor sapi menjulurkan leher ke luar pagar . Dia makan re rumput an yang tumbuh di luar kandang. P emilik tidak ingin sapi melakukan nya . Re rumput an itu be racun. Lagipula, pemilik sudah memberi rerumputan yang sehat untuknya . Si p emilik menggertak. Dia menulis tanda merah dengan huruf besar-besar, “ Dilarang makan rumput di luar kandang. B eracun !” Dipasangnya di tepi-tepi pagar . Si sapi tidak membaca. I a tidak tahu apa itu. I a tetap menjulurkan kepala untuk makan re rumput an di luar. Si p emilik berhenti menggertak . Dia p asang kawat listrik bermuatan rendah di sepanjang pagar . Tapi, s eperti sebelum- sebelumnya, si s api menjulurkan leher . Kali ini , aduh! ia terkejut . I a tersengat listrik. Di cobanya lagi. Aduh! tersengat lagi . Dicobanya lagi . Aduh! masih tersengat juga. Akhirnya ia berhenti , dan hanya makan rumput di dalam kandang. Aman , batin si pemilik. * Warga perumahan memasang tanda, “Dilarang ngebut !” Ini d emi keselamatan pe...