Pagi hari berkendara menuju kantor. Mendadak, seekor ayam memintas jalan. Awas ! Hampir saja pejantan itu tertabrak mobil. Bulu-bulu sayap kanannya tampak terserak sehelai dua sebagai akibat. Sesampai di seberang, ternyata si pejantan mengejar seekor betina. Bulu-bulu tengkuknya menegak. Marah atau sedang berhasrat? Ayam bodoh! Seloroh seorang kawan. Entah demi kawin atau marah-marah, kau hampir mati karenanya. Aku tersenyum sendiri. Adilkah menyebut si ayam sebagai bodoh? Justru penghormatan itu terlalu tinggi baginya. Mengapa? Karena, meski toh punya otak, ayam tak punya akal. Jadi, tak bisa berpikir. Ia tak punya kemampuan menjadi bodoh, apalagi bijak. Berbeda dengan manusia (?). * Sungguhkah berbeda? Manusia punya otak yang bersifat fisis dan akal yang bersifat mental. Tapi, apakah termanfaatkan? Seringnya, cuma punya otak, tapi tak berakal. Mempertaruhkan nyawa berharga demi perkara tak sepadan. Contoh di jalan: kebut-kebutan, melanggar lampu merah, menyalib dari kiri, d...
Blog ini berisi permenungan, ilustrasi khotbah, & pencetus apa pun. Silahkan menebarkan di jaringan pribadi Anda. Ingat sumbernya. Silahkan melayangkan tanggapan atau pertanyaan. Selamat menikmati. TUHAN memberkati.