Langsung ke konten utama

AYAM BODOH

Pagi hari berkendara menuju kantor. Mendadak, seekor ayam memintas jalan. Awas! Hampir saja pejantan itu tertabrak mobil. Bulu-bulu sayap kanannya tampak terserak sehelai dua sebagai akibat. Sesampai di seberang, ternyata si pejantan mengejar seekor betina. Bulu-bulu tengkuknya menegak. Marah atau sedang berhasrat?

Ayam bodoh! Seloroh seorang kawan. Entah demi kawin atau marah-marah, kau hampir mati karenanya.

Aku tersenyum sendiri. Adilkah menyebut si ayam sebagai bodoh? Justru penghormatan itu terlalu tinggi baginya. Mengapa? Karena, meski toh punya otak, ayam tak punya akal. Jadi, tak bisa berpikir. Ia tak punya kemampuan menjadi bodoh, apalagi bijak. Berbeda dengan manusia (?).

*

Sungguhkah berbeda? Manusia punya otak yang bersifat fisis dan akal yang bersifat mental. Tapi, apakah termanfaatkan? Seringnya, cuma punya otak, tapi tak berakal. Mempertaruhkan nyawa berharga demi perkara tak sepadan. Contoh di jalan: kebut-kebutan, melanggar lampu merah, menyalib dari kiri, dan tanpa helm di kepala, hanya demi tombol check clock.

Sedikit akal bisa lebih berguna: Kalau mau cepat sampai, kata seorang sopir, berangkatlah kemarin. Dia benar.

Sementara ayam tak bisa jadi bodoh, manusia kerap memilih jadi masa bodoh.

Waspada, kawan. Dusta punya topeng bermacam pembenaran. Mengorbankan keluarga demi pekerjaan, dan berkata, Saya melakukannya demi mereka. Mengorbankan iman demi kepentingan sesaat, dan berujar, Bukannya semua agama sama saja? Waspada, kawan. Secuil keinsyafan bisa menyelamatkan banyak nyawa. Sebab, berton-ton kemegahan dunia tak ada harganya di hadapan satu ons kebijaksanaan.

Mari daraskan pengingat dari sang pemazmur: Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan (Mzm. 49:21, LAI-TB).

Sby, Mar 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...