Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta?
1. Sehat.
2. Ekonomi lancar.
3. Ehm, ehm…
Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga
permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta
apa?
Ehm… sebentar. Apa ya?
Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir…)
Bisakah saya bantu beri
saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha,
bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan
bijak.
*
Bukan, ini bukan tentang
keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan
dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga
permintaan lagi. Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi.
Dalam tiga permintaan,
kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di
permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi. Kita kemudian memperluas
batasan itu. Kita mendapat tiga kesempatan lagi. Dan, kalau dua permintaan pertama
sudah dinyatakan, coba tebak apa permintaan ketiganya? Tepat. Lagi, tiga
permintaan lagi. Demikianlah kita. Berjuang memperluas batasan permintaan itu.
Kita berjuang untuk memperpanjang kesempatan itu.
Lalu, apakah dalam urusan
waktu hidup, kita menerapkan prinsip yang sama? Seperti tiga permintaan itu,
kita pun diberi batasan. Waktu kita di bumi, akibat dosa Adam di taman Eden,
menjadi terbatas. Jadi, mengapa kita tidak berjuang memperluas batasan waktu
hidup kita? Mengapa kita tidak berupaya memperpanjang kesempatan hidup kita?
Bagaimana? Dengan memanfaatkan setiap jengkal waktu di bumi demi menerima kehidupan
kekal yang lebih panjang di sorga. Bukan malah menghabis-habiskan kesempatan hidup
di sini. Kalau kita sekadar menghabiskan waktu di bumi tanpa memikirkan cara memperpanjang
waktu hidup di sorga, maka ketika waktunya tiba untuk pergi dari sini, kita akan
benar-benar habis dalam kematian abadi.
Jadi, seperti prinsip
tiga permintaan: manfaatkan permintaan terakhir untuk meminta tiga
permintaan lagi demi memperpanjang kesempatan meminta, mari kita manfaatkan
pula waktu-waktu terakhir di bumi---sebab tak kita tahu kapan berakhirnya---demi
menikmati panjangnya kehidupan dalam kekekalan sorgawi. TUHAN memberkati.
Ajarlah kami menghitung
hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana
(Mzm. 90:12).
Komentar
Posting Komentar