Pagi, dalam perjalanan… menerawang. Mendung bergelayut, mengelabu awan. Pengendara bermantel, dari sisi berlawanan. Ah… hujan . Hati berjaga, tertawan penasaran, Di mana ‘ku ‘kan diterpa hujan? Akal bersiap, mengantisipasi rintik pertama. Namun terlihat berkas menyinar, hati pun riang. Hore, mentari terbangun. Hujan t’lah sirna olehnya. Perjalanan ‘kan cerah ceria. Hati bersuka, girang sebab tercegah dari dingin dan basah. Hingga di meter kesekian… Bukan, bukan mentari yang mengusir hujan. Hujan sirna kar’na awan air pergi entah ke mana. Perginya kar’na ditiup hembus angin tak kasat mata. Angin, sajak ini semestinya bagi angin. Yang tak terlihat, tapi kunikmati buah kerjanya. Yang tiada tampil mengemuka, namun membuka jalan cah’ya sang surya. Sajak ini bagi angin. * Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang bekerja keras menaklukkan awan gelap dan membuka jalan demi para mentari bisa menerangi bumi berseri. Yang setelah melakukan tugasnya, kemudi...
Blog ini berisi permenungan, ilustrasi khotbah, & pencetus apa pun. Silahkan menebarkan di jaringan pribadi Anda. Ingat sumbernya. Silahkan melayangkan tanggapan atau pertanyaan. Selamat menikmati. TUHAN memberkati.