Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

SAJAK BAGI (KAUM) ANGIN

Pagi, dalam perjalanan… menerawang. Mendung bergelayut, mengelabu awan. Pengendara bermantel, dari sisi berlawanan. Ah… hujan . Hati berjaga, tertawan penasaran, Di mana ‘ku ‘kan diterpa hujan? Akal bersiap, mengantisipasi rintik pertama. Namun terlihat berkas menyinar, hati pun riang. Hore, mentari terbangun. Hujan t’lah sirna olehnya. Perjalanan ‘kan cerah ceria. Hati bersuka, girang sebab tercegah dari dingin dan basah. Hingga di meter kesekian… Bukan, bukan mentari yang mengusir hujan. Hujan sirna kar’na awan air pergi entah ke mana. Perginya kar’na ditiup hembus angin tak kasat mata. Angin, sajak ini semestinya bagi angin. Yang tak terlihat, tapi kunikmati buah kerjanya. Yang tiada tampil mengemuka, namun membuka jalan cah’ya sang surya. Sajak ini bagi angin. * Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang bekerja keras menaklukkan awan gelap dan membuka jalan demi para mentari bisa menerangi bumi berseri. Yang setelah melakukan tugasnya, kemudi...

MENGAPUNG

Ketika belajar berenang, dan mulai tenggelam, reaksi alami kita biasanya bergerak meronta-ronta sekuat yang kita bisa. Sayangnya, itu bukan gerakan yang bermanfaat untuk membuat kita terapung. Sebaliknya, gerakan kalang kabut dan panik itu justru membuat kita makin terbenam. Semakin kuat berjuang, semakin turun pula di kedalaman. Hingga, kita letih. Lalu, berhenti melawan. Ajaibnya, pada saat itulah kita dapati bahwa kita mulai mengambang. Dengan berhenti melawan, kita justru terangkat oleh massa jenis kita sendiri yang lebih kecil daripada massa jenis air. Kita mengapung lagi. Kita terangkat ke permukaan ketika berhenti meronta. Betapa lega rasanya. * Kawan, kerap kali ketika manusia mulai tenggelam dalam ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, bahkan kebencian dan kepahitan, reaksi pertama adalah berjuang sekuat tenaga melawannya. Saya tidak takut. Saya tidak khawatir pada masa depan. Kerja keras tanpa libur ini saya lakukan demi menjaga kestabilan keuangan kami. Anak-anak saya p...