Pagi, dalam perjalanan… menerawang.
Mendung bergelayut,
mengelabu awan.
Pengendara bermantel,
dari sisi berlawanan.
Ah… hujan.
Hati
berjaga, tertawan penasaran, Di mana ‘ku ‘kan diterpa hujan?
Akal
bersiap, mengantisipasi rintik pertama.
Namun terlihat berkas
menyinar, hati pun riang.
Hore, mentari terbangun.
Hujan t’lah sirna olehnya. Perjalanan ‘kan cerah ceria.
Hati bersuka, girang sebab
tercegah dari dingin dan basah.
Hingga
di meter kesekian… Bukan, bukan mentari yang mengusir hujan.
Hujan
sirna kar’na awan air pergi entah ke mana.
Perginya
kar’na ditiup hembus angin tak kasat mata.
Angin, sajak ini semestinya
bagi angin.
Yang tak terlihat, tapi kunikmati
buah kerjanya.
Yang tiada tampil mengemuka,
namun membuka jalan cah’ya sang surya.
Sajak ini bagi angin.
*
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin, yang bekerja keras menaklukkan awan gelap dan membuka jalan demi
para mentari bisa menerangi bumi berseri. Yang setelah melakukan tugasnya,
kemudian tersembunyi dari sudut pelupuk mata, kadang di pojok paling sepi.
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin, yang tak mengejar gelar dunia yang menyeru: Jadilah yang
terbaik, Raihlah nomor satu, Rebutlah posisi terdepan, Tampillah
cemerlang di depan semua orang. Yang sudah puas dengan selesainya tugas,
bukan acungan jempol atau tepuk tangan.
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin, yang melihat dalam senyum ikhlas saat para mentari diidamkan, dinantikan,
dan dipuja-puji kalangan bumi. Yang berjuang demi bumi lewat pengabdian pada mentari.
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin, yang mengambil bentuk dalam tangan lembut perkasa para ibu
yang menyiapkan makan, sandang, dan rumah bagi penghuninya.
Dalam usaha tak kenal
lelah para pendoa yang bersyafaat demi kebaikan banyak orang yang tak melihat bahkan
mungkin tak akan pernah mengenalnya.
Dalam hati para sahabat
yang mempertaruhkan reputasi dan rela dibenci karena telah menghardik dosa demi
menyelamatkan jiwa kawan baiknya.
Dalam sanubari seorang
Yohanes Pembaptis yang rela ditinggalkan murid-murid yang berganti mengikut sang
Mesias yang telah diberitakannya. Yang bergeser posisi ke tempat nomor dua supaya
segala fokus terarah pada sang Pengantin Lelaki.
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin. Bagi yang mengambil tempat sebagai nomor dua, demi sang nomor
satu.
Ya. Sajak ini bagi angin.
Bagi kaum angin. Bagi kita. Sebab, bukankah kita kaum angin? Bukankah kita berjuang
membuka jalan Sang Surya Kebenaran agar menerobosi relung bumi hati jiwa-jiwa
yang merindu? Bukankah kita insyaf bahwa pelayanan musti mengarahkan semua jiwa
kepada-Nya, bukan kita?
Dalam kata sang pembaptis:
Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil
(Yoh. 3:30). Amen.
Komentar
Posting Komentar