Langsung ke konten utama

SAJAK BAGI (KAUM) ANGIN

Pagi, dalam perjalanan… menerawang.

Mendung bergelayut, mengelabu awan.

Pengendara bermantel, dari sisi berlawanan.

Ah… hujan.

Hati berjaga, tertawan penasaran, Di mana ‘ku ‘kan diterpa hujan?

Akal bersiap, mengantisipasi rintik pertama.

Namun terlihat berkas menyinar, hati pun riang.

Hore, mentari terbangun. Hujan t’lah sirna olehnya. Perjalanan ‘kan cerah ceria.

Hati bersuka, girang sebab tercegah dari dingin dan basah.

Hingga di meter kesekian… Bukan, bukan mentari yang mengusir hujan.

Hujan sirna kar’na awan air pergi entah ke mana.

Perginya kar’na ditiup hembus angin tak kasat mata.

Angin, sajak ini semestinya bagi angin.

Yang tak terlihat, tapi kunikmati buah kerjanya.

Yang tiada tampil mengemuka, namun membuka jalan cah’ya sang surya.

Sajak ini bagi angin.

*

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang bekerja keras menaklukkan awan gelap dan membuka jalan demi para mentari bisa menerangi bumi berseri. Yang setelah melakukan tugasnya, kemudian tersembunyi dari sudut pelupuk mata, kadang di pojok paling sepi.

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang tak mengejar gelar dunia yang menyeru: Jadilah yang terbaik, Raihlah nomor satu, Rebutlah posisi terdepan, Tampillah cemerlang di depan semua orang. Yang sudah puas dengan selesainya tugas, bukan acungan jempol atau tepuk tangan.

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang melihat dalam senyum ikhlas saat para mentari diidamkan, dinantikan, dan dipuja-puji kalangan bumi. Yang berjuang demi bumi lewat pengabdian pada mentari.

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin, yang mengambil bentuk dalam tangan lembut perkasa para ibu yang menyiapkan makan, sandang, dan rumah bagi penghuninya.

Dalam usaha tak kenal lelah para pendoa yang bersyafaat demi kebaikan banyak orang yang tak melihat bahkan mungkin tak akan pernah mengenalnya.

Dalam hati para sahabat yang mempertaruhkan reputasi dan rela dibenci karena telah menghardik dosa demi menyelamatkan jiwa kawan baiknya.

Dalam sanubari seorang Yohanes Pembaptis yang rela ditinggalkan murid-murid yang berganti mengikut sang Mesias yang telah diberitakannya. Yang bergeser posisi ke tempat nomor dua supaya segala fokus terarah pada sang Pengantin Lelaki.

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin. Bagi yang mengambil tempat sebagai nomor dua, demi sang nomor satu.

Ya. Sajak ini bagi angin. Bagi kaum angin. Bagi kita. Sebab, bukankah kita kaum angin? Bukankah kita berjuang membuka jalan Sang Surya Kebenaran agar menerobosi relung bumi hati jiwa-jiwa yang merindu? Bukankah kita insyaf bahwa pelayanan musti mengarahkan semua jiwa kepada-Nya, bukan kita?

Dalam kata sang pembaptis: Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh. 3:30). Amen.

Sby 2 Mei 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...