Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

SAJAK HAIKU: IKAN KECIL

ikan kecilku rindu bebas merdeka dari airnya ia hasratkan tuk ’ keluar cepat pergi ke darat lompat, terlepas… s e kejap … megap-megap menanti mati * Ikan kecil menganggap air laksana belenggu . I a rindu meluncur tanpa pe rintang. Terb ebas , sangka nya. T ak insyaf betapa makna air baginya . I kan tidak dicipta untuk hidup di luar air . Pun, manusia tidak di rancang untuk hidup di luar hukum . Siswa sekolah disanksi jika mencontek. Tim sepakbola dihukum jika melanggar aturan main. Pebisnis digugat jika melanggar perjanjian . Pameo “ hukum ada untuk dilanggar” adalah ujaran tanpa akal. Hukum bukan penghambat kebebasan. Hukum j ustru memungkinkan kebebasan untuk dijalani. Kawan, kebebasan dari hukum adalah ilusi. Keluar dari hukum hanya berujung pada kebinasaan. Rahmat-Mu berlimpah, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-hukum-Mu (Mzm. 119:156, LAI-TB). * IKAN KECIL (Lanjutan) terengah-engah kar’na air tiada susutlah pongah kucing hampi...

FIRMAN BIKIN SAKIT HATI

Seorang anak merasakan gatal di kaki. Dia menggaruk kulit kaki itu keras-keras, hingga lecet. Dia mengaduh. Ibunya memberi minyak oles. Anak itu meringis, kesakitan, “Ibu, kulitku makin terasa pedih. Minyak itu menyakiti kulitku.” Ibu tersenyum. “Coba oleskan minyak itu di tanganmu.” Anak itu melakukannya. “Apakah kulit tanganmu terasa pedih?” tanya Ibu. Si anak menggeleng. Ibu melanjutkan, “Jadi, bukan minyak yang membuat kulit kakimu terasa sakit. Tapi, lecet itu. Semakin dalam lecetnya, semakin perih rasanya. Minyak itu justru sedang menyembuhkan kulitmu.” * Berapa banyak orang salah paham terhadap firman TUHAN? Firman dirasa menyakitkan, perih, memedihkan, bahkan menyesakkan. Firman sesungguhnya menyembuhkan. Yang sedang sakit adalah hati. Ketika hati sedang sehat, firman dengan lembut masuk ke dalam. Tanpa hambatan, meneguhkan, dan menguatkan. Tetapi, ketika hati sedang sakit, firman mengobati luka. Proses ini akan terasa sangat menyakitkan. Semakin pedih rasanya berar...

ENGGAN BEBAS

Tetangga saya punya love birds . Berwarna-warni dan sedap dipandang. Beberapa kali, burung-burung itu keluar kandang. Tapi, tak lama kemudian, mereka kembali. Mirip merpati, love birds bisa terikat dengan sangkarnya. Sudah begitu nyaman dengan tempatnya selama ini hingga tidak mengingini kebebasannya sendiri. * Kenyamanan membuat lupa pada kebebasan. Kebebasan itu menakutkan, karena memberi tanggung jawab sekaligus menuntut pertanggungjawaban. Kenyamanan lebih memikat, karena memenuhi rasa aman. Di antara anak-anak manusia, ada yang lebih memilih kenyamanan dalam sangkar dosa daripada kebebasan sejati. Mereka enggan merdeka, karena nyaman tinggal dalam dosa. Mereka tidak mengerti apa yang TUHAN simpan bagi orang-orang yang memutuskan untuk menjalani kehidupan di luar sangkar dosa: Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang ...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...

MENAMPAR WAJAH

Bayangkan. Seseorang menampar wajah rekan kerjanya. Apa akibatnya? Surat peringatan satu. Misalnya. Orang itu marah, lalu menampar wajah atasannya. Apa akibatnya? Surat peringatan dua. Lagi. Dalam perjalanan pulang, orang itu menampar wajah polisi. Apa akibatnya? Penjara satu tahun empat bulan. Lebih lagi. Rombongan presiden lewat. Orang itu menghentikannya dan menampar wajah presiden. Apa akibatnya? Penjara tiga setengah tahun. Pertanyaan: Mengapa perbuatan yang sama (menampar) diberi hukuman berbeda (dari surat peringatan hingga penjara lebih dari tiga tahun)? Tanggapan: Logika sederhana. X + Y = Z Jika X bernilai tetap, tetapi Z berubah-ubah, berarti Y adalah pencetus perubahan itu. Jika perbuatan “menampar wajah” (X) menghasilkan “hukuman berbeda-beda” (Z), berarti “pihak yang ditampar” (Y) adalah faktor pembeda. Ternyata, kita dapati, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam struktur sosial masyarakat, maka semakin berat pula hukuman karena “menampar wajah” oran...

SEPERTI SALEM DEWASA; Sekuat Apakah Dosa?

Ikan Salem (Salmon) itu unik. Bertelur di air tawar, tapi hidup di air asin. Di masa awal, ia makan dan hidup di sungai. Tiga atau empat tahun kemudian, Salem siap untuk air asin. Ia mengikuti aliran sungai menuju lautan, yakni Samudera Atlantik. Setelah tiga tahun lebih di laut, Salem dewasa kembali ke sungai untuk menetaskan telur. Perjalanan dari laut ke sungai sangat sulit. Salem melawan arus yang kuat. Ia berjuang, melompat, menggelepar demi melewati bebatuan tajam dan ngarai sungai terjal. Belum lagi, pemangsa yang siap menyambut, seperti berang-berang dan beruang. Sungguh, perjalanan bertaruh nyawa, hingga sampai di hulu. * Dalam suatu permenungan, terpantik pertanyaan: Sekuat apakah dosa? Bagai berenang di sungai, Anda tak akan tahu kekuatan arus ketika berenang searah dengan aliran. Tapi, cobalah berenang melawan arus, maka Anda akan menyadari kekuatannya. Demikian pula, kita tak akan tahu kekuatan dosa, kecuali kita berjuang habis-habisan melawannya. “Kristen kan...

SOK KUAT!

Spanduk terpasang. Tinggi di jalan. Di ruang strategis dan terbuka. Menarik mata melihat pesan. Tapi, tunggu. Mengapa ada lubang-lubang kecil pada tubuhnya? Tahukah Anda alasan mengapa spanduk diberi lubang-lubang di sekujur tubuhnya? Membuatnya tak lagi terlihat utuh nan indah. Ternyata, lubang-lubang dibuat demi kebaikan spanduk itu sendiri. Itu adalah “lubang angin” ( wind ventilation ). Berfungsi agar angin lebih mudah menerobos spanduk, sehingga tidak merusaknya. Bayangkan, tanpa lubang-lubang itu, kecepatan angin hingga 100 Km/Jam akan menusuk dan tertahan pada spanduk. Angin akan merobeknya, bahkan menjungkalkannya ke jalanan, tanpa guna. Pesan sebagus apa pun tak akan lagi terbaca. * Kehidupan manusia tak lepas dari kelemahan dan kegagalan. Tak terlihat indah memang. Tapi, itu bisa berfungsi bagai “lubang angin.” Tanpa “lubang-lubang” itu, kita akan terobek-robek dan jatuh terhempas oleh “angin kesombongan.” Perancang kita mahatahu. TUHAN memahami kelemahan, ketakut...

WORTEL BURUK BUAT MATA

Dua pegawai berbincang santai di kantor. A: “Sekarang saya tahu. Wortel ternyata buruk buat mata.” B: “Ah, masa’ ? Bukannya wortel bagus buat mata?” A: “ Nggak juga. Wortel buruk buat mata.” B: “Bagaimana bisa?” A: “Ambil saja dua batang wortel, lalu colokkan ke mata. Akibatnya akan sangat buruk buat mata Anda.” B: “Ampun, deh .” * Wortel ‘buruk’ buat mata. Tentu, karena dicolokkan ke mata, bukan dimakan atau diminum sarinya. Wortel itu “baik” atau “buruk” bagi mata bergantung cara kita memperlakukannya. Bisa jadi kita sedang memperlakukan Alkitab seperti itu. Kita gunakan Alkitab sebagai obat tidur (membaca Alkitab kalau ada sisa waktu di malam hari). Atau, jimat keramat (memajang Alkitab di atas meja supaya aman dari roh jahat, meski tak pernah membukanya). Atau, mantra (mengucapkan berulang-ulang ayat Alkitab demi mendapat umur panjang, jodoh, promosi jabatan, atau harta kekayaan). Ironi! Semoga kita insyaf pada alasan mengapa TUHAN memberi Alkitab bagi uma...

HARI ESOK

  Sepulang sekolah, seorang anak kelas 4 SD berkata, “Ibu, aku tidak mau naik kelas.” Ibunya terkejut, “Kenapa, Nak?” Anak itu menjawab, “Kakak-kakak di kelas 5 bilang kalau pelajaran mereka sulit-sulit. Aku tidak akan bisa menghadapi kesulitan itu kalau naik kelas 5 tahun depan.” Sang Ibu tersenyum, “Tenang, Nak. Kamu khan masih kelas 4. Nanti, waktu kamu naik kelas 5, pikiranmu juga akan bertumbuh lebih besar daripada sekarang. Kamu akan lebih pintar. Kamu pasti siap untuk pelajaran berikutnya.” * Salmon muda mengeluh, “Betapa sulit perjalanan kita nanti menuju sungai. Padahal, hanya untuk bertelur. Arusnya deras dan curam. Ada beruang dan kematian. Aku tak mau melakukannya kalau sudah dewasa.” Salmon tua menyahut, “Ah, itu sekarang. Padahal, kalau dewasa nanti, instink untuk mengarungi sungai penuh bahaya itu demi bertelur akan semakin kuat dibanding saat ini. Kemampuan berenangmu juga akan lebih hebat. Kamu akan siap melakukannya, seperti kami.” * Rembulan merasa ta...

DOA MINTA HUJAN

Terjadi kekeringan di sebuah desa. Sungai kering, sawah gersang, ladang tandus, kebun gundul, sumur terlihat dasarnya. Para pemimpin berkumpul. Mereka sepakat mengajak seluruh penduduk ke tanah lapang di kaki bukit. Di sana, mereka akan berdoa meminta hujan. Tak bisa ditunda lagi. Keesokan hari, semua warga telah sampai. Tampak pula beberapa anak kecil. Penampilan anak-anak itu mengundang senyum geli, bahkan gelak tawa. Mereka membawa pelepah pisang, kerudung kepala, capil, bahkan karung sebagai mantel. Pak Lurah bertanya, “Kenapa kalian membawa segala macam barang itu? Tinggalkan saja di rumah. Kita di sini mau berdoa, bukan bermain-main.” Anak-anak itu saling memandang, heran. Salah satu di antara mereka, si hitam mulus berkepala botak dengan rambut di depan dahi sekuncir, menyahut, “Pak Lurah, bukannya kita di sini mau berdoa supaya hujan turun? Kami bawa semua ini supaya nanti tidak kehujanan.” * Luar biasa! Anak-anak itu pergi berdoa dengan membawa satu barang yang palin...

JEBAKAN KEBIASAAN

Di puncak gunung, berdirilah sebuah biara. Di sana, para rahib memusatkan hidup untuk berdoa. Di sekitar biara, berkeliaran seekor anjing hutan. Ia menjadi kawan para rahib. Hanya, ia kerap menggonggong. Melihat bahwa anjing itu dapat mengusik kekhidmatan, sang kepala biara mengikatnya di pohon dekat dapur saat doa berlangsung. Karena berjarak cukup jauh, maka meski terus menyalak, anjing itu tak lagi mengganggu. Suatu hari, sang kepala biara mangkat. Tapi, anjing itu terus datang. Para rahib pun bergantian tugas mengikatnya di pohon saat doa berlangsung. Rahib-rahib generasi pertama mangkat pula. Hingga, datanglah rahib-rahib generasi kedua. Mereka bergantian tugas mengikat anjing itu di pohon saat doa berlangsung. Suatu hari, si anjing mati. Para rahib menguburkannya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pergi ke kota. Mereka membeli anjing baru dan mengikatnya di pohon dekat dapur. Ketika ditanya alasan melakukan ini, mereka menjawab: “Sudah tradisi.” Mereka jelas gagal memahami ala...