Dua pegawai berbincang santai di kantor.
A: “Sekarang saya tahu. Wortel
ternyata buruk buat mata.”
B: “Ah, masa’?
Bukannya wortel bagus buat mata?”
A: “Nggak juga.
Wortel buruk buat mata.”
B: “Bagaimana bisa?”
A:
“Ambil saja dua batang wortel, lalu colokkan ke mata. Akibatnya akan sangat
buruk buat mata Anda.”
B:
“Ampun, deh.”
*
Wortel ‘buruk’ buat mata.
Tentu, karena dicolokkan ke mata, bukan dimakan atau diminum sarinya. Wortel itu
“baik” atau “buruk” bagi mata bergantung cara kita memperlakukannya.
Bisa jadi kita sedang memperlakukan
Alkitab seperti itu. Kita gunakan Alkitab sebagai obat tidur (membaca
Alkitab kalau ada sisa waktu di malam hari). Atau, jimat keramat
(memajang Alkitab di atas meja supaya aman dari roh jahat, meski tak pernah membukanya).
Atau, mantra (mengucapkan berulang-ulang ayat Alkitab demi mendapat umur
panjang, jodoh, promosi jabatan, atau harta kekayaan).
Ironi!
Semoga kita insyaf pada alasan
mengapa TUHAN memberi Alkitab bagi umat-Nya.
Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya (Yak. 1:25, LAI-TB).
(Sidoarjo, Nov 2021)
Komentar
Posting Komentar