Langsung ke konten utama

SEPERTI SALEM DEWASA; Sekuat Apakah Dosa?

Ikan Salem (Salmon) itu unik. Bertelur di air tawar, tapi hidup di air asin. Di masa awal, ia makan dan hidup di sungai. Tiga atau empat tahun kemudian, Salem siap untuk air asin. Ia mengikuti aliran sungai menuju lautan, yakni Samudera Atlantik. Setelah tiga tahun lebih di laut, Salem dewasa kembali ke sungai untuk menetaskan telur.

Perjalanan dari laut ke sungai sangat sulit. Salem melawan arus yang kuat. Ia berjuang, melompat, menggelepar demi melewati bebatuan tajam dan ngarai sungai terjal. Belum lagi, pemangsa yang siap menyambut, seperti berang-berang dan beruang.

Sungguh, perjalanan bertaruh nyawa, hingga sampai di hulu.

*

Dalam suatu permenungan, terpantik pertanyaan: Sekuat apakah dosa?

Bagai berenang di sungai, Anda tak akan tahu kekuatan arus ketika berenang searah dengan aliran. Tapi, cobalah berenang melawan arus, maka Anda akan menyadari kekuatannya. Demikian pula, kita tak akan tahu kekuatan dosa, kecuali kita berjuang habis-habisan melawannya.

“Kristen kanak-kanak” menjalani kehidupan rohani yang nyaman dan searah dengan aliran dosa. Aman-aman saja. Kalau pun berdosa, entah sengaja atau tidak, tinggal minta ampun pada TUHAN, lalu bangkit lagi dan menjalani kehidupan seperti biasa.

Sebaliknya, “Kristen dewasa” bergerak menentang arus dosa. Dia mengerti betapa kuatnya keinginan dosa di dalam daging. Ini membuatnya semakin bergantung pada TUHAN. Dia insyaf bahwa TUHAN membebaskannya bukan hanya dari dosa, lebih lagi, dari keinginan untuk hidup dalam dosa. Penghormatannya pada korban Kristus di kayu salib setinggi pertaruhan nyawanya untuk menolak dosa.

“Kristen dewasa” yang berjuang melawan arus dosa, hanya merekalah yang dimampukan menghasilkan generasi pahlawan iman berikutnya. Seperti Salem dewasa, lebih lagi, seperti Kristus: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Kristus, dicatat Yohanes di 12:24, LAI-TB).

(Sidoarjo, 23 Okt 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...