Terjadi kekeringan di sebuah desa. Sungai kering, sawah gersang, ladang tandus, kebun gundul, sumur terlihat dasarnya. Para pemimpin berkumpul. Mereka sepakat mengajak seluruh penduduk ke tanah lapang di kaki bukit. Di sana, mereka akan berdoa meminta hujan. Tak bisa ditunda lagi.
Keesokan hari, semua
warga telah sampai. Tampak pula beberapa anak kecil. Penampilan anak-anak itu mengundang
senyum geli, bahkan gelak tawa. Mereka membawa pelepah pisang, kerudung kepala,
capil, bahkan karung sebagai mantel.
Pak Lurah bertanya,
“Kenapa kalian membawa segala macam barang itu? Tinggalkan saja di rumah. Kita
di sini mau berdoa, bukan bermain-main.” Anak-anak itu saling memandang, heran.
Salah satu di antara mereka, si hitam mulus berkepala botak dengan rambut di
depan dahi sekuncir, menyahut, “Pak Lurah, bukannya kita di sini mau berdoa
supaya hujan turun? Kami bawa semua ini supaya nanti tidak kehujanan.”
*
Luar biasa!
Anak-anak itu pergi
berdoa dengan membawa satu barang yang paling penting: iman. Mereka beriman bahwa
TUHAN menjawab doa. Mereka percaya bahwa TUHAN akan memberi mereka hujan. Iman mereka
nampak lewat perbuatan.
Karena itu Aku
berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu
telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu
(Kristus, dicatat oleh Markus di 11:24, LAI-TB).
Komentar
Posting Komentar