Sepulang sekolah, seorang anak kelas 4 SD berkata, “Ibu, aku tidak mau naik kelas.” Ibunya terkejut, “Kenapa, Nak?” Anak itu menjawab, “Kakak-kakak di kelas 5 bilang kalau pelajaran mereka sulit-sulit. Aku tidak akan bisa menghadapi kesulitan itu kalau naik kelas 5 tahun depan.”
Sang Ibu tersenyum, “Tenang,
Nak. Kamu khan masih kelas 4. Nanti, waktu kamu naik kelas 5, pikiranmu juga akan
bertumbuh lebih besar daripada sekarang. Kamu akan lebih pintar. Kamu pasti siap
untuk pelajaran berikutnya.”
*
Salmon muda mengeluh,
“Betapa sulit perjalanan kita nanti menuju sungai. Padahal, hanya untuk
bertelur. Arusnya deras dan curam. Ada beruang dan kematian. Aku tak mau
melakukannya kalau sudah dewasa.”
Salmon tua menyahut, “Ah,
itu sekarang. Padahal, kalau dewasa nanti, instink untuk mengarungi sungai penuh
bahaya itu demi bertelur akan semakin kuat dibanding saat ini. Kemampuan
berenangmu juga akan lebih hebat. Kamu akan siap melakukannya, seperti kami.”
*
Rembulan merasa tak percaya
diri. Sepanjang hari, ia melihat Mentari menerangi Bumi dengan cahaya dan
panas. Membuat Rembulan enggan melakukan tugasnya sendiri malam itu. “Aku tiada
sehebat engkau, Mentari. Kau begitu kuat. Bumi merasakan terpaan panasmu yang
dahsyat. Kau melakukan pekerjaan hebat. Aku tak akan mampu.”
Mentari terbahak, “Ha ha
ha… tentu saja kau akan melakukan tugasmu dengan baik. Aku tahu itu.” Rembulan
heran, “Bagaimana kau mengetahuinya?” Mentari tersenyum, “Karena akulah yang
akan memberimu kekuatan menerangi Bumi. Jangan khawatir. Pergi saja keluar dan
tunjukkan dirimu. Selebihnya, itu urusanku.”
*
Manusia terbiasa
memikirkan masa depan dengan pikiran saat ini. Hingga, rasa khawatir merayapi. Kita
enggan melangkah keluar dan menghadapi hari. Kita mencemaskan terlalu banyak
perkara. Kita menghitung-hitung hari esok menurut kemampuan hari ini.
Sungguh tak adil!
Mengukur hari besok sesuai keadaan hari ini.
Hari esok memang memuat rahasia.
Tapi, bukankah di hari-hari kemarin kita telah menyaksikan pertolongan TUHAN
yang gamblang?
Hari esok memang
menyimpan tantangan. Tapi, bukankah hari itu juga menyimpan janji kasih TUHAN
yang selalu segar?
Bersama nabi Yeremia, mari
nyatakan: Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh
sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak
habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
(Rat. 3:21-23, LAI-TB). Selamat menggarisbawahi frase tak berkesudahan
dari kasih setia TUHAN itu.
Komentar
Posting Komentar