Langsung ke konten utama

MENAMPAR WAJAH

Bayangkan. Seseorang menampar wajah rekan kerjanya. Apa akibatnya? Surat peringatan satu.

Misalnya. Orang itu marah, lalu menampar wajah atasannya. Apa akibatnya? Surat peringatan dua.

Lagi. Dalam perjalanan pulang, orang itu menampar wajah polisi. Apa akibatnya? Penjara satu tahun empat bulan.

Lebih lagi. Rombongan presiden lewat. Orang itu menghentikannya dan menampar wajah presiden. Apa akibatnya? Penjara tiga setengah tahun.

Pertanyaan: Mengapa perbuatan yang sama (menampar) diberi hukuman berbeda (dari surat peringatan hingga penjara lebih dari tiga tahun)?

Tanggapan: Logika sederhana. X + Y = Z

Jika X bernilai tetap, tetapi Z berubah-ubah, berarti Y adalah pencetus perubahan itu.

Jika perbuatan “menampar wajah” (X) menghasilkan “hukuman berbeda-beda” (Z), berarti “pihak yang ditampar” (Y) adalah faktor pembeda. Ternyata, kita dapati, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam struktur sosial masyarakat, maka semakin berat pula hukuman karena “menampar wajah” orang itu.

*

Bagaimana dengan TUHAN? Dosa manusia adalah pelanggaran atas hukum-Nya dan pemberontakan atas autoritas-Nya. Maka, apakah hukuman bagi tindakan ‘menampar’ Sang Raja Semesta, Pencipta langit dan bumi serta seluruh isi alam? Tentu bukan hanya penjara satu atau tiga tahun. Rasul Paulus menggariskannya, Sebab upah dosa ialah maut… (Rm. 6:23, LAI-TB).

TUHAN adalah Yang Mahatinggi dan Yang Kekal, sehingga masuk akal ketika hukuman terhadap-Nya harus melibatkan kekekalan. Yakni, kebinasaan abadi. Adil, bukan?

Tetapi, syukur kepada TUHAN, sebab ini bukan keadaan tanpa harapan. Di ayat yang sama, melalui rasul-Nya, TUHAN meneguhkan bahwa kasih karunia-Nya adalah kehidupan kekal bagi kita di dalam iman kepada Kristus, sang Juruselamat.

Selamat menghargai kedalaman kasih TUHAN melalui sang Putra.

(Sidoarjo, Okt 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...