Langsung ke konten utama

SOK KUAT!

Spanduk terpasang. Tinggi di jalan. Di ruang strategis dan terbuka. Menarik mata melihat pesan.

Tapi, tunggu. Mengapa ada lubang-lubang kecil pada tubuhnya?

Tahukah Anda alasan mengapa spanduk diberi lubang-lubang di sekujur tubuhnya? Membuatnya tak lagi terlihat utuh nan indah. Ternyata, lubang-lubang dibuat demi kebaikan spanduk itu sendiri.

Itu adalah “lubang angin” (wind ventilation). Berfungsi agar angin lebih mudah menerobos spanduk, sehingga tidak merusaknya. Bayangkan, tanpa lubang-lubang itu, kecepatan angin hingga 100 Km/Jam akan menusuk dan tertahan pada spanduk. Angin akan merobeknya, bahkan menjungkalkannya ke jalanan, tanpa guna. Pesan sebagus apa pun tak akan lagi terbaca.

*

Kehidupan manusia tak lepas dari kelemahan dan kegagalan. Tak terlihat indah memang. Tapi, itu bisa berfungsi bagai “lubang angin.” Tanpa “lubang-lubang” itu, kita akan terobek-robek dan jatuh terhempas oleh “angin kesombongan.”

Perancang kita mahatahu. TUHAN memahami kelemahan, ketakutan, dan kegagalan kita. Menutup-nutupi kelemahan hanya supaya terlihat kuat di hadapan orang lain justru akan menghancurkan segalanya.

Memang, tak mudah menyadari kelemahan. Tak mudah mengakui kegagalan. Tak mudah menginsyafi ketakutan terdalam. Tak mudah bagi kita untuk meminta tolong pada saudara seiman yang dewasa rohani demi menopang kelemahan. Tapi, ini layak dikerjakan. Demi menghindar dari jatuh berantakan dan terjerembab total karena keangkuhan.

Mari simak ketika sang Rabbi mengakui kelemahan-Nya sebelum tersalib, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku" (Mat. 26:38, LAI-TB).

Rasul Petrus pernah bertindak bak pengecut dan Alkitab mencatat reaksinya, Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (Luk. 22:62, LAI-TB).

Rasul Paulus tak lepas dari kelemahan, dan dia sendiri menuliskan harapan dalam kelemahan itu, Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor. 12:10, LAI-TB).

Apakah kita lebih perkasa daripada para rasul? Bahkan, Kristus?

Apakah kita memilih untuk mengakui kelemahan-kelemahan kita dan dikuatkan? Atau, menutup-nutupinya demi terlihat gagah---lalu, hancur?

Biarlah pilihan itu tepat, sehingga kita dapat menikmati kuasa TUHAN yang bekerja hebat dalam kelemahan kita.

(Sidoarjo, 19 Sep 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...