Spanduk terpasang. Tinggi di jalan. Di ruang strategis dan terbuka. Menarik mata melihat pesan.
Tapi, tunggu. Mengapa ada
lubang-lubang kecil pada tubuhnya?
Tahukah Anda alasan
mengapa spanduk diberi lubang-lubang di sekujur tubuhnya? Membuatnya tak lagi terlihat
utuh nan indah. Ternyata, lubang-lubang dibuat demi kebaikan spanduk itu sendiri.
Itu adalah “lubang angin”
(wind ventilation). Berfungsi agar angin lebih mudah menerobos spanduk,
sehingga tidak merusaknya. Bayangkan, tanpa lubang-lubang itu, kecepatan angin hingga
100 Km/Jam akan menusuk dan tertahan pada spanduk. Angin akan merobeknya,
bahkan menjungkalkannya ke jalanan, tanpa guna. Pesan sebagus apa pun tak akan lagi
terbaca.
*
Kehidupan manusia tak lepas
dari kelemahan dan kegagalan. Tak terlihat indah memang. Tapi, itu bisa berfungsi
bagai “lubang angin.” Tanpa “lubang-lubang” itu, kita akan terobek-robek dan
jatuh terhempas oleh “angin kesombongan.”
Perancang kita mahatahu. TUHAN
memahami kelemahan, ketakutan, dan kegagalan kita. Menutup-nutupi kelemahan hanya
supaya terlihat kuat di hadapan orang lain justru akan menghancurkan segalanya.
Memang, tak mudah
menyadari kelemahan. Tak mudah mengakui kegagalan. Tak mudah menginsyafi ketakutan
terdalam. Tak mudah bagi kita untuk meminta tolong pada saudara seiman yang
dewasa rohani demi menopang kelemahan. Tapi, ini layak dikerjakan. Demi menghindar
dari jatuh berantakan dan terjerembab total karena keangkuhan.
Mari simak ketika sang
Rabbi mengakui kelemahan-Nya sebelum tersalib, "Hati-Ku
sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah
dengan Aku" (Mat. 26:38, LAI-TB).
Rasul Petrus pernah bertindak
bak pengecut dan Alkitab mencatat reaksinya, Lalu ia
pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (Luk. 22:62, LAI-TB).
Rasul Paulus tak lepas
dari kelemahan, dan dia sendiri menuliskan harapan dalam kelemahan itu, Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam
siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena
Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor. 12:10, LAI-TB).
Apakah kita lebih perkasa
daripada para rasul? Bahkan, Kristus?
Apakah kita memilih untuk
mengakui kelemahan-kelemahan kita dan dikuatkan? Atau, menutup-nutupinya demi
terlihat gagah---lalu, hancur?
Biarlah pilihan itu tepat,
sehingga kita dapat menikmati kuasa TUHAN yang bekerja hebat dalam kelemahan
kita.
Komentar
Posting Komentar