Di puncak gunung, berdirilah sebuah biara. Di sana, para rahib memusatkan hidup untuk berdoa.
Di sekitar biara, berkeliaran
seekor anjing hutan. Ia menjadi kawan para rahib. Hanya, ia kerap menggonggong.
Melihat bahwa anjing itu dapat mengusik kekhidmatan, sang kepala biara
mengikatnya di pohon dekat dapur saat doa berlangsung. Karena berjarak cukup
jauh, maka meski terus menyalak, anjing itu tak lagi mengganggu.
Suatu hari, sang
kepala biara mangkat. Tapi, anjing itu terus datang. Para rahib pun bergantian
tugas mengikatnya di pohon saat doa berlangsung.
Rahib-rahib
generasi pertama mangkat pula. Hingga, datanglah rahib-rahib generasi kedua.
Mereka bergantian tugas mengikat anjing itu di pohon saat doa berlangsung.
Suatu hari, si anjing
mati. Para rahib menguburkannya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pergi ke
kota. Mereka membeli anjing baru dan mengikatnya di pohon dekat dapur. Ketika
ditanya alasan melakukan ini, mereka menjawab: “Sudah tradisi.”
Mereka jelas gagal
memahami alasan mengapa dulu kepala biara mengikat anjing di pohon.
*
Pertama-tama,
kita membentuk kebiasaan. Berikutnya, kebiasaan itu membentuk kita
(John Dryden, penyair Inggris).
Kita musti waspada
agar tidak sekadar melakukan kebiasaan atau mengikuti tradisi tanpa mengerti alasannya.
Terlebih, tanpa memeriksa apakah kebiasaan itu sehat bagi iman.
Tidak semua
kebiasaan atau tradisi adalah buruk. Tetapi, kita perlu memeriksanya di bawah
terang firman TUHAN. Agar tidak hanya membenarkan yang sudah terbiasa, tapi membiasakan
yang benar.
Seiring langkah mendaraskan
doa sang pemazmur: Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah
aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan
tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mzm. 139:23-24, LAI-TB).
(Sidoarjo, 20 Okt 2021)
Komentar
Posting Komentar