Seekor sapi menjulurkan leher ke luar pagar. Dia makan rerumputan yang tumbuh di luar kandang. Pemilik tidak ingin sapi melakukannya. Rerumputan itu beracun. Lagipula, pemilik sudah memberi rerumputan yang sehat untuknya.
Si
pemilik menggertak.
Dia menulis tanda merah
dengan huruf besar-besar,
“Dilarang makan rumput di
luar kandang. Beracun!” Dipasangnya di tepi-tepi pagar. Si sapi tidak membaca. Ia tidak tahu apa itu. Ia tetap menjulurkan kepala untuk
makan rerumputan di luar.
Si
pemilik berhenti
menggertak. Dia pasang
kawat listrik bermuatan rendah di sepanjang
pagar. Tapi, seperti sebelum-sebelumnya, si sapi menjulurkan leher. Kali ini, aduh!
ia terkejut. Ia tersengat listrik. Dicobanya lagi. Aduh!
tersengat lagi. Dicobanya
lagi. Aduh!
masih tersengat juga. Akhirnya ia berhenti, dan hanya makan rumput di
dalam kandang.
Aman,
batin si pemilik.
*
Warga perumahan memasang tanda, “Dilarang ngebut!”
Ini demi keselamatan
pengendara dan warga. Tapi, pengendara kerap tak peduli.
Mereka tetap ngebut. Membahayakan.
Warga kemudian memutuskan memasang penghambat jalan, polisi
tidur (meski Kepolisian
Republik ini tak pernah tidur). Efektif.
Kebut-kebutan reda.
Manusia
sering tak hirau pada tulisan. Mirip sapi. Sapi tak peduli karena tak bisa membaca. Ia tak mengerti, maka itu tak
mampu mematuhi. Tapi,
manusia bisa membaca. Dan,
mengerti. Namun, tak peduli. Ternyata, informasi belum tentu transformasi.
Bisa membaca belum tentu berubah tingkah karena bacaannya.
Hingga kini, Alkitab, katanya,
adalah buku paling laris sepanjang masa. Tapi, berapa
banyak pembaca yang telah diubahkan polah tingkahnya? Bukan pada Alkitab masalahnya.
Tapi, manusia.
Diberkatilah kita membaca
Alkitab dan terubahkan. Supaya tak seperti sapi, yang harus disengat listrik terlebih dulu demi melakukan yang benar,
tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang
jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya,
pastilah engkau mati" (Kej. 2:17, LAI-TB).
(Sidoarjo, 9 Feb 2020)
Komentar
Posting Komentar