Sebelum kelas dimulai, seorang guru bertanya kepada murid-murid.
Guru: “Siapa
yang belum mandi pagi ini? Silahkan angkat tangan.”
Murid: (Mengangkat
tangan sambil tersenyum bangga.)
“Saya, pak.”
(Grrr… Murid-murid
lain sontak tertawa.)
Murid: “Lho,
kawan-kawan, saya ini jujur.
Yang penting itu jujur. Benar,
khan, pak?”
Guru: “Benar. Jujur itu penting.”
Murid: “Tuh,
benar khan?” (Memandang kelas dengan pongah.)
Guru: “Tapi, cukup jujurmu hari ini. Besok, berubahlah.
Mandi sebelum ke sekolah.”
(Grrr… Seluruh
kelas tertawa lagi. Si murid tersenyum-senyum bak berkata, Siap, laksanakan.)
*
Jujur memang
penting. Tapi, orang sering lupa bahwa jujur hanya langkah awal, bukan tujuan
akhir. Kita musti jujur untuk mengakui apa yang masih harus diperbaiki. Tapi, sesudah
itu, kita melangkah
dalam kerendahan hati untuk berubah.
Setelah jujur
mengakui, kita perlu merendahkan diri untuk diajar melakukan yang benar. Bukan
terus hidup semaunya dalam kesalahan. Ingatkah pada makna pertobatan? Sabda TUHAN: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri,
berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka
Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan
negeri mereka” (2 Taw. 7:14, LAI-TB).
Bagaimana pendapat
Anda?
Komentar
Posting Komentar