Pukul 04.30. Alarm berbunyi. Tiga kali. Dia pulas. Tak ada gerakan.
Pukul 05.00. Alarm berbunyi. Tiga kali. Tetap
pulas. Hanya sedikit bergerak.
Pukul 05.30. Weker berbunyi. Tiga kali. Mulai terusik. Dimatikan.
“Sebentar,” dalam igau.
Pukul 06.00. Alarm dan weker bersamaan. Masing-masing
tiga kali. Mata terpicing. Enggan, keduanya dimatikan. “Sedikit lagi,” dalam hati.
Pukul 09.00. Tak ada alarm. Tak ada weker. Dia
terjaga. Mengusap mata. Lamat-lamat, benak makin utuh. Sadar mengisi nurani. Sontak, dia berdiri, “Ya ampun! Jam berapa?” Ditatapnya jam.
Terduduk, dalam
sendu, “Ahhh,” teriak tertahan. Mata berkaca. Sesal terbit di ulu hati. Sesak merayapi kalbu. Mendesis lirih, “Sudah
berangkat.”
Melirik tiket first class ke Lombok. “Aku tertinggal.”
*
Alarm berfungsi baik. Weker bekerja sempurna.
Tapi, enggan bangun mengacaukan segala. Syukurlah hanya melewatkan liburan. Apa jadinya jika melewatkan
kehidupan kekal?
Roh Kudus mengusik kenyamanan
dosa, tapi insyafkah kita?
Dia mengajarkan Kebenaran, tapi relakah hati kita? Dia mengingatkan penghakiman, tapi tersadarkah kita?
Atau, tetap pulas dalam kenyamanan… hingga semua terlambat?
Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak
Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan" (Luk. 12:40, LAI-TB).
Komentar
Posting Komentar