Langsung ke konten utama

KHAN DAN SAHABATNYA

Kaum nomaden di padang gurun Eurasia punya tradisi berburu bersama elang. Genghis Khan (penakluk dari Mongolia) juga. Dia memberinya makan dari tangannya sendiri dan melatihnya.

Suatu pagi di musim panas, Khan dan pengawalnya berburu. Mereka membawa busur dan panah. Khan hanya membawa elang kesayangannya di lengan. Elang itu jauh lebih andal, karena bisa terbang dan melihat apa-apa yang tak terlihat mata manusia.

Frustrasi karena tidak menemukan apa pun, Khan meninggalkan rombongan. Khan lelah dan haus. Sungai mengering, tak ada air. Tiba-tiba, Khan menemukan aliran dari celah batu.

Dia melepas elangnya, dan mengeluarkan cawan perak. Tepat ketika mengangkat cawan, si elang terbang, menepis cawan dari tangan, hingga terjatuh. Khan marah. Dia mengisi lagi. Tapi, elang itu kembali menghempas cawan. Air pun tumpah.

Khan mencintai elang itu, tapi tak bisa membiarkan sikap tidak hormat ini. Kalau ada orang melihat, pasti tersiar kabar di tengah prajurit: Khan, sang penakluk agung, tidak sanggup menjinakkan seekor burung. Apa kata dunia nanti?

Khan menghunus pedang. Dia mengambil cawan. Air terisi. Si elang terbang ke arahnya. Bwess, satu gerakan cepat, dan Khan menebas sahabatnya. Cawan terjatuh, demikian juga elang itu.

Khan memutuskan naik ke sumber air untuk minum. Dia menemukan genangan di atas. Mengejutkan! Di situ, di tempat itu, tergeletak mati ular paling berbisa di gurun. Seandainya minum, Khan pasti sudah mati.

Terdiam, Khan menatap ke bawah, meratapi sang sahabat.

*

Sering, orang-orang yang mengusik kenyamanan kita menjadi orang-orang yang paling kita benci. Mereka yang mengoreksi keputusan kita menjadi pihak yang paling ingin kita enyahkan.

Padahal, mereka sedang mempertaruhkan reputasi dan hubungan, bahkan hidup, demi kebaikan kita. Mereka mengasihi kita. Kita balas mereka dengan kebencian.

Mampukah kita memperlakukan mereka dengan lebih pantas? Sebab, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Ams. 27:6, LAI-TB).

(Sidoarjo, 24 Ags 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...