Kaum nomaden di padang gurun Eurasia punya tradisi berburu bersama elang. Genghis Khan (penakluk dari Mongolia) juga. Dia memberinya makan dari tangannya sendiri dan melatihnya.
Suatu pagi di musim
panas, Khan dan pengawalnya berburu. Mereka membawa busur dan panah. Khan hanya
membawa elang kesayangannya di lengan. Elang itu jauh lebih andal, karena bisa
terbang dan melihat apa-apa yang tak terlihat mata manusia.
Frustrasi karena tidak
menemukan apa pun, Khan meninggalkan rombongan. Khan lelah dan haus. Sungai
mengering, tak ada air. Tiba-tiba, Khan menemukan aliran dari celah batu.
Dia melepas elangnya, dan
mengeluarkan cawan perak. Tepat ketika mengangkat cawan, si elang terbang, menepis
cawan dari tangan, hingga terjatuh. Khan marah. Dia mengisi lagi. Tapi, elang itu
kembali menghempas cawan. Air pun tumpah.
Khan mencintai elang itu,
tapi tak bisa membiarkan sikap tidak hormat ini. Kalau ada orang melihat, pasti
tersiar kabar di tengah prajurit: Khan, sang penakluk agung, tidak sanggup menjinakkan
seekor burung. Apa kata dunia nanti?
Khan menghunus pedang.
Dia mengambil cawan. Air terisi. Si elang terbang ke arahnya. Bwess, satu
gerakan cepat, dan Khan menebas sahabatnya. Cawan terjatuh, demikian juga elang
itu.
Khan memutuskan naik ke
sumber air untuk minum. Dia menemukan genangan di atas. Mengejutkan! Di situ, di
tempat itu, tergeletak mati ular paling berbisa di gurun. Seandainya minum,
Khan pasti sudah mati.
Terdiam, Khan menatap ke
bawah, meratapi sang sahabat.
*
Sering, orang-orang yang mengusik
kenyamanan kita menjadi orang-orang yang paling kita benci. Mereka yang mengoreksi
keputusan kita menjadi pihak yang paling ingin kita enyahkan.
Padahal, mereka sedang
mempertaruhkan reputasi dan hubungan, bahkan hidup, demi kebaikan kita. Mereka
mengasihi kita. Kita balas mereka dengan kebencian.
Komentar
Posting Komentar