Di tengah syuting sebuah adegan film, si aktor tiba-tiba berseru, “Cut!”
Semua orang di lokasi
terkejut. Sutradara berteriak, “Ada apa?”
Si aktor menjawab,
“Adegan saya sudah selesai. Sudah bagus tadi itu. Sempurna. Saya suka. Sekarang,
kita bisa lanjut ke scene berikutnya.”
Sang sutradara berubah
air mukanya. “Apa-apaan? Saya sutradaranya. Saya yang tentukan sebuah adegan pantas
diambil atau perlu diulang. Saya penilainya, saya yang putuskan cut atau
action. Itu hak saya. Tugas Anda lakukan akting saja. Saya yang menilai akting
Anda.”
Si aktor tak mau kalah,
“Tak bisa begitu. Itu tidak adil. Saya juga punya suara. Saya aktornya.”
Sambil berdiri dan
beranjak pergi, sang sutradara berkata, “Cut! Beri saya aktor lain.”
*
Ha ha ha…
begitulah jadinya ketika seorang aktor menganggap dirinya sutradara. Hanya
sutradara yang berhak mengatakan Cut! Lain tidak. Sebab, sutradaralah yang
memiliki pandangan luas, yakni keseluruhan cerita. Dia mewujudkan naskah di
atas kertas menjadi kisah di depan layar.
Tapi, jangan-jangan orang
percaya sering seperti itu. Menilai pelayanan sendiri dan berkata, Cukup,
karyaku sudah hebat. Tak bisa lebih baik lagi. Sudah cukup baik.
Hei, siapa kita bisa memutuskan
pelayanan sudah cukup baik untuk TUHAN? Jangan sombong, berhenti puas diri. Pelayanan
itu untuk TUHAN, bukan demi kepuasan kita. Rendahkan hati. Terus berkarya. Hanya
sang Sutradara berhak berkata, Cut! dan memberi pujian atas kerja keras kita.
Atau, sebaliknya, Ya,
ampun. Tak ada yang baik dari yang telah kulakukan. Semua berantakan, kacau. Tak
bisa sempurna, tak akan pernah sempurna. Aku berhenti saja. Cukup.
Hei, siapa kita bisa memutuskan
pelayanan itu terlalu buruk untuk dipakai TUHAN memberkati orang lain? Jangan
putus asa, berhenti menghakimi diri. Pemilik pelayanan adalah TUHAN, bukan
kita. Singsingkan lengan baju. Terus berkarya. Hanya sang Sutradara berhak
berkata, Cut! dan membuat pelayanan kita menghasilkan buah-buah kekal.
Mari beri ruang bagi
TUHAN dalam pelayanan kita. Tugas kita hanya bekerja keras bagi-Nya sampai pembuatan
film selesai.
Tetapi karena
kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia
yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja
lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih
karunia Allah yang menyertai aku (1 Kor. 15:10, LAI).
Komentar
Posting Komentar