Seorang anak menemukan sehelai
kain sutra di tengah jalan. Kotor oleh ban mobil dan motor, debu dan sepatu. Ia
pungut dan bawa pulang.
Dicucinya bersih. Dicelup
hati-hati dalam air sabun, dan diangkat. Kotoran keluar. Indah. Terlihat lagi kilau
sutra itu. Si anak puas dengan hasil kerjanya.
Ia jemur kain itu di luar.
Sekadar diangin-angin. Ia masuk ke dalam rumah.
Sore hari, kain hendak diambil.
Betapa terkejut… sutra itu hilang. Raib entah ke mana atau siapa mengambilnya.
Anak itu menangis… sendiri
menyesali jerih payahnya.
*
Kesia-siaan belaka,
seru sang pengkhotbah, Kesia-siaan belaka.
Kain sutra dipungut dan dicelup
di air sabun, hanya untuk dibiarkan tercuri setelah bersih.
Mengingatkan pada
perjuangan habis-habisan menginjili orang. Setelah bertobat, kita baptis. Lalu,
kita biarkan dia sendirian. Menghadapi ganas dunia tanpa teman. Menjalani iman tanpa
kawan seperjalanan. Bahkan terasing di rumah ibadah tanpa sahabat.
Sampai musuh menerkamnya.
Dan, jerih payah pun sia-sia. Hanya menjaring angin.
Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (1 Kor. 12:26-27).
Sby 11 Jan 2024
Komentar
Posting Komentar