Langsung ke konten utama

TANAMAN KELOR & Kisah Mimpi-mimpi yang Dipatahkan

Sebatang kelor ditanam di lahan baru. Segera saja, ia bertumbuh dan meninggi. Daun-daunnya lebat nan segar. Ia puas dengan keberadaannya.

Hingga suatu saat, pemilik memotongnya. Ya, ampun. Apa yang engkau lakukan? Diam tanpa daya, ia melihat batang tingginya dipangkas menjadi separuh. Dedaunannya dirontokkan. Luka-luka mengalirkan getah darah seperti tak ‘kan tersembuhkan. Tertegun dalam hening, ia sedih. Menatap ia pada pohon kelor besar dan gagah beberapa meter darinya. Tegak, kuat, tangguh menatap langit. Dalam hati timbul cemburu. Mengapa bukan pohon itu? Mengapa aku? Rintihnya dalam sendu, sendirian.

Tiga bulan, dan ia bersemi lagi. Daun-daunnya lebih segar, lebih lebat. Batangnya mulai menguat, tingginya pun membanggakan. Ia tersenyum. Hingga, pemilik datang. Ya, ampun. Jangan lagi. Batangnya dipotong. Daun-daunnya digugurkan. Apa yang engkau lakukan? Apa yang salah kulakukan? Mengapa mimpi-mimpiku mencapai awan ditebas, mengapa impian-impianku meraih bintang dipangkas? Tak tahan, ia menangis keras. Luka-luka baru di sekujur batang perih dan seperti tak ‘kan terpulihkan. Dalam cemburu dan pedih, ia memandang pohon kelor besar dan gagah beberapa meter darinya. Aku ingin sepertinya. Tumbuh besar tak terganggu. Meninggi tak terusik.

Bulan demi bulan terjadi demikian. Sesal mulai terbit di ulu hati yang sesak. Cita-cita musnah, harapan sirna, di tangan pemilik sendiri.

Suatu pagi, sebelum pemangkasan seperti yang sudah-sudah, ia tegarkan hati dan bersuara pada pohon kelor besar dan gagah, beberapa meter darinya: “Wahai, kawan megah nan mempesona, jawablah aku. Mengapakah terjadi atasku sengsara ini? Mengapakah padamu segalanya berbeda? Bagaimana bisa kutahan perkara ini?” Menghela napas, ia lanjutkan, “Tak mampu aku berlama-lama menatap langit atau memandang mentari, menyapa rembulan atau menggapai bintang-gemintang. Tak berani aku bermimpi. Sebab, pastilah akan dipotong lagi. Betapa inginku bertukar tempat denganmu.”

Pohon kelor kekar menengok pada kelor kecil. Dengan suara dalam, bagai memuat derita berat di batin, ia mengangkat suara, “Dasar kelor bodoh. Seandainya kau mengerti, tak ‘kan kau mengingini tempatku.” Kelor kecil tertegun, heran. “Tahukah kau mengapa tuan kita rajin-rajin memangkasmu, atau menebang batang-batangmu ketika meninggi? Itu adalah supaya kau tetap dipakainya. Daun kita adalah obat. Daunmu lebih berkhasiat daripada daun sebatang kelor yang telanjur mengeras dan berpohon sepertiku. Jadi, tuan memangkasmu. Kalau saja dibiarkannya kau meninggi dan mengeras berkayu sepertiku, tak ‘kan banyak bermanfaat kau, sepertiku kini, yang telah tumbuh tinggi lama sebelum sang tuan datang.”

“Batangmu dipangkas demi dibagi-bagikannya pada kenalan dan sahabat, sehingga mereka menikmati pula apa yang dipetiknya darimu.” Sambil tertunduk, pohon tegap perkasa itu berkata lirih dalam isak, “Ketika tamu datang, dan tuan kita mengajak mereka berkeliling kebun. Kaulah tanaman kebanggaannya. Kaulah bahan kisah indahnya bagi handai taulan. Segarmu, manfaatmu, indahmu di hadapannya. Sementara aku teronggok, semata menghias pojok pekarangan, entah sampai kapan. Dasar kelor bodoh. Sedihmu jadi penghalang melihat senyum sang tuan saat memandanginmu, perih sesaatmu jadi rintangan menyaksikan kebanggaan suaranya saat memperkenalkanmu pada rekan-rekannya. Sesungguhnya, akulah yang ingin bertukar tempat denganmu.”

Terhunjam kelor kecil. Tepekur ia. Diam-diam hati berseru, lirih namun pasti, menangis dalam suka, Silahkan, tuan. Silahkan, kini. Pangkaslah batang-batangku, tebaslah mimpi-mimpiku. Demi kebaikan abadiku, mewujudkan kesenangan hatimu.

*

Tanaman kelor (Moringa oleifera) perlu rajin dipangkas agar tak meninggi, supaya daunnya tetap segar dan berkhasiat. Demikian orang percaya di dalam Kristus. Dibersihkan tanpa henti untuk terus dipakai TUHAN menebarkan buah kasih bagi sesama.

Saat kita merasa seakan-akan impian sedang dipatahkan, atau harapan dikandaskan, cita-cita didamparkan, keinginan ditelantarkan… percayalah, TUHAN sedang merenda kita agar makin berbuah indah menurut pandangan-Nya. Sebab, sesungguhnya TUHAN-lah impian terindah, harapan termegah, cita-cita termulia, dan keinginan terdalam setiap insan tercipta.

Teriring perkataan sang Rabbi: Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yoh. 15:2).

TUHAN memberkati.

(Sda 21 Jan 2024)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...