Sebatang kelor ditanam di lahan baru. Segera saja, ia bertumbuh dan meninggi. Daun-daunnya lebat nan segar. Ia puas dengan keberadaannya.
Hingga suatu saat, pemilik
memotongnya. Ya, ampun. Apa yang engkau lakukan? Diam tanpa daya, ia
melihat batang tingginya dipangkas menjadi separuh. Dedaunannya dirontokkan.
Luka-luka mengalirkan getah darah seperti tak ‘kan tersembuhkan. Tertegun dalam
hening, ia sedih. Menatap ia pada pohon kelor besar dan gagah beberapa meter
darinya. Tegak, kuat, tangguh menatap langit. Dalam hati timbul cemburu. Mengapa
bukan pohon itu? Mengapa aku? Rintihnya dalam sendu, sendirian.
Tiga bulan, dan ia bersemi
lagi. Daun-daunnya lebih segar, lebih lebat. Batangnya mulai menguat, tingginya
pun membanggakan. Ia tersenyum. Hingga, pemilik datang. Ya, ampun. Jangan
lagi. Batangnya dipotong. Daun-daunnya digugurkan. Apa yang engkau lakukan?
Apa yang salah kulakukan? Mengapa mimpi-mimpiku mencapai awan ditebas, mengapa
impian-impianku meraih bintang dipangkas? Tak tahan, ia menangis keras. Luka-luka
baru di sekujur batang perih dan seperti tak ‘kan terpulihkan. Dalam cemburu
dan pedih, ia memandang pohon kelor besar dan gagah beberapa meter darinya. Aku
ingin sepertinya. Tumbuh besar tak terganggu. Meninggi tak terusik.
Bulan demi bulan terjadi
demikian. Sesal mulai terbit di ulu hati yang sesak. Cita-cita musnah, harapan
sirna, di tangan pemilik sendiri.
Suatu pagi, sebelum pemangkasan
seperti yang sudah-sudah, ia tegarkan hati dan bersuara pada pohon kelor besar dan
gagah, beberapa meter darinya: “Wahai, kawan megah nan mempesona, jawablah aku.
Mengapakah terjadi atasku sengsara ini? Mengapakah padamu segalanya berbeda?
Bagaimana bisa kutahan perkara ini?” Menghela napas, ia lanjutkan, “Tak mampu
aku berlama-lama menatap langit atau memandang mentari, menyapa rembulan atau
menggapai bintang-gemintang. Tak berani aku bermimpi. Sebab, pastilah akan dipotong
lagi. Betapa inginku bertukar tempat denganmu.”
Pohon kelor kekar
menengok pada kelor kecil. Dengan suara dalam, bagai memuat derita berat di batin,
ia mengangkat suara, “Dasar kelor bodoh. Seandainya kau mengerti, tak ‘kan kau
mengingini tempatku.” Kelor kecil tertegun, heran. “Tahukah kau mengapa tuan
kita rajin-rajin memangkasmu, atau menebang batang-batangmu ketika meninggi? Itu
adalah supaya kau tetap dipakainya. Daun kita adalah obat. Daunmu lebih
berkhasiat daripada daun sebatang kelor yang telanjur mengeras dan berpohon sepertiku.
Jadi, tuan memangkasmu. Kalau saja dibiarkannya kau meninggi dan mengeras berkayu
sepertiku, tak ‘kan banyak bermanfaat kau, sepertiku kini, yang telah tumbuh
tinggi lama sebelum sang tuan datang.”
“Batangmu dipangkas demi
dibagi-bagikannya pada kenalan dan sahabat, sehingga mereka menikmati pula apa
yang dipetiknya darimu.” Sambil tertunduk, pohon tegap perkasa itu berkata lirih
dalam isak, “Ketika tamu datang, dan tuan kita mengajak mereka berkeliling
kebun. Kaulah tanaman kebanggaannya. Kaulah bahan kisah indahnya bagi handai
taulan. Segarmu, manfaatmu, indahmu di hadapannya. Sementara aku teronggok,
semata menghias pojok pekarangan, entah sampai kapan. Dasar kelor bodoh. Sedihmu
jadi penghalang melihat senyum sang tuan saat memandanginmu, perih sesaatmu
jadi rintangan menyaksikan kebanggaan suaranya saat memperkenalkanmu pada rekan-rekannya.
Sesungguhnya, akulah yang ingin bertukar tempat denganmu.”
Terhunjam kelor kecil. Tepekur
ia. Diam-diam hati berseru, lirih namun pasti, menangis dalam suka, Silahkan,
tuan. Silahkan, kini. Pangkaslah batang-batangku, tebaslah mimpi-mimpiku. Demi kebaikan
abadiku, mewujudkan kesenangan hatimu.
*
Tanaman kelor (Moringa
oleifera) perlu rajin dipangkas agar tak meninggi, supaya daunnya tetap segar
dan berkhasiat. Demikian orang percaya di dalam Kristus. Dibersihkan tanpa
henti untuk terus dipakai TUHAN menebarkan buah kasih bagi sesama.
Saat kita merasa seakan-akan
impian sedang dipatahkan, atau harapan dikandaskan, cita-cita didamparkan, keinginan
ditelantarkan… percayalah, TUHAN sedang merenda kita agar makin berbuah indah menurut
pandangan-Nya. Sebab, sesungguhnya TUHAN-lah impian terindah, harapan termegah,
cita-cita termulia, dan keinginan terdalam setiap insan tercipta.
Teriring perkataan sang
Rabbi: Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia
lebih banyak berbuah (Yoh. 15:2).
TUHAN memberkati.
Komentar
Posting Komentar