Insyafkah ketika kita di jalanan? Orang yang mengemudi lebih lamban kita perkatai, “Lambat!” atau “Dia bisa nyetir, nggak, sih?” Orang yang berkendara lebih kencang juga tak luput, “Dasar, nekat!” atau “Nggak sayang nyawa.” Jadi, kecepatan berapakah yang paling tepat? Tentu saja, kecepatan kita. Entah berapa pun kilometer per jam, pokoknya kecepatan kitalah yang paling tepat.
Kini, di gereja. Suasana pujian
menguar di udara. Tetangga kiri bersemangat.
Timbul pikiran, “Sepertinya dia baru ditolong Tuhan, pantas girang banget.” Tetangga di kanan
pun tak lolos dari pengamatan. Dia
bernyanyi tanpa tenaga. Tidak
mengangkat tangan, matanya nanar ke depan. Dalam
hati kita berkata, “Kasihan, malas gerak. Tanpa
sukacita, pasti lagi banyak masalah.”
Sekarang tebak, jemaat mana yang punya gaya memuji paling tepat? Ya, benar. Kita. Gaya
kitalah yang paling tepat. Lagi bersemangat? Menangis? Berjingkrak? Teduh? Norak? Tak
peduli. Asal itu gaya kita, maka gaya itulah yang paling tepat.
*
Sebenarnya,
apa sih yang sedang kita lakukan? Menghabiskan waktu menghakimi sesama.
Mari simak perkataan sang Rabbi, “Karena Yohanes datang, ia tidak
makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak
Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang
pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat. 11:18-19).
Yohanes gemar puasa, orang
bilang dia kerasukan. Kristus kerap makan di rumah sahabat, mereka ejek sebagai rakus dan pemabuk. Lalu, siapa yang paling benar? Tepat. Para pengejek itulah kelompok
yang paling saleh di seluruh jagat, menurut pikirannya sendiri.
Kawan, ketika tak berkenan pada perilaku orang, baiklah kita
memperbaikinya di dalam diri sendiri. Tetapi, menghakimi adalah pekerjaan sia-sia. Perbuatan yang disorot tajam oleh
Kristus. Selamat menjalani
hidup tanpa menghakimi. TUHAN
memberkati.
Komentar
Posting Komentar