Melaju di jalan.
Melihat motor di depan.
Ada yang ganjil. Tak
bagus. Jagang (:standar, bagian penopang sepeda) motor kirinya masih aktif, tegak berdiri. Wah,
membahayakan.
Sedikit kutambah
kecepatanku. Kulihat di depanku beberapa orang melaju pula. Tapi, tak seorang
pun memberitahu bapak pengendara itu. Tekadku bulat. Melaju, tetap waspada.
Sampai juga aku di
sampingnya. Ya ampun, makin kulihat alasan kuat untuk melakukannya.
Mereka berboncengan tiga: si bapak dan ibu di belakang, plus seorang anak
sekolahan di depan.
Tak ambil waktu lama, aku
berseru: Pak, jagange, pak. Mereka sempat terkaget, lalu berkata “Oh, inggih
(Oh, ya),” sambil tersenyum dan berterima kasih. Aku beri tanda jempol dan
berlalu. Kulihat dari kaca spion, jagang itu sudah dibereskan. Puji TUHAN. Satu
tugas telah selesai.
*
Menariknya, beberapa
menit kemudian, masih di perjalanan, aku menganalisis situasi itu.
Seharusnya kamu tadi
lebih jelas mengatakannya, demikian benakku berkata. Tadi,
mestinya kamu bisa lebih melambat dan ramah ketika mereka bilang terima kasih, batinku
tak ketinggalan. Bermacam-macam perkara berkutat di dunia mental tentang bagaimana
aku seharusnya bisa melakukan lebih baik tadinya. Tiba-tiba, terbetik di
hatiku, pertolongan dari Yang Mahakudus.
Maka, aku pun perintahkan
benak dan batinku untuk berhenti. Stop. Sudah selesai. TUHAN percayakan dan
TUHAN sudah selesaikan melaluiku bagi mereka. Yang penting adalah keselamatan
mereka, dan kami semua di jalanan. Tentang caranya, itu urusan sekunder. Stop.
Sudah selesai. TUHAN sempurnakan.
Keduanya pun berhenti
menjadi alat si musuh untuk menggugat-gugat diriku.
Terpikir kemudian olehku
tentang penginjilan masa kini:
Keselamatan itu krusial.
Kehidupan adalah bisnis berkecepatan tinggi. Masalah kecil bisa menghalangi
orang untuk selamat. Baik di jalan maupun kehidupan kekal. Yang penting,
serukan dulu keselamatan itu, tentang caranya, biarlah TUHAN yang mencetuskan
dan menyempurnakan. Kalau cuma berkutat demi mencari cara yang sempurna,
bisa-bisa tak akan pernah menyerukan berita keselamatan. Padahal, banyak
jiwa sedang dipertaruhkan nasib kekalnya.
Beritakanlah
firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang
salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran
(2 Tim. 4:2).
Komentar
Posting Komentar