Langsung ke konten utama

TETANGGA MASA’ GITU?

 Kerumunan begitu riuh. Mereka mendaftar keluhan: “Pak hakim, tetangga saya buang sampah di tempat saya.” Yang lain menyahut, “Tanaman tetangga merusak pagar saya. Waktu saya tanya, malah dia yang marah.” Lagi, “Bagaimana dengan saya? Sebelah rumah mengeluh terus. Tak tahan bau amis ikan. Padahal, saya berjualan ikan.

Hakim bertanya, “Memangnya tetangga macam apa yang kalian inginkan?” Jawaban pun berhamburan, “Yang tahu buang sampah di tempatnya sendiri.” Disusul, “Yang tanaman atau binatang peliharaannya nggak merusak rumah tetangga.” Masih ada lagi, “Yang rela bau amis karena tetangganya sedang cari nafkah,” “Yang mau menyapa orang,” “Yang gampang memaafkan kesalahan orang, “Yang suka traktir makan,” “Yang suka kirim makanan.”

“Kalau begitu,” sela sang hakim, “mulai hari ini, jadilah tetangga seperti yang kalian inginkan itu.” Mereka tercenung. Riuh pun mereda.

*

Kawan, menuntut perubahan dari diri orang lain bisa menghabiskan waktu, energi, dan biaya. Sebagai gantinya, mari menjadi perubahan yang ingin kita lihat pada diri orang lain itu. Jika kita berubah dan orang lain itu berubah, baguslah. Jika kita berubah, tapi orang lain tidak, maka setidak-tidaknya kita akan lebih bijak menanggapi kebebalan manusia.

Be the change that you wish to see in this world (Jadilah perubahan yang ingin Anda lihat di dunia). Suara Mahatma Gandhi ini mengingatkan pada aturan emas yang sebelumnya telah disuarakan sang Guru Agung dari Nazaret, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Luk. 6:31).

Selamat menjalani hidup sebagai perubahan yang Anda sendiri ingin lihat di dunia. Roh Kudus menyertai.

Sda, 15 Maret 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...