Kerumunan begitu riuh. Mereka mendaftar keluhan: “Pak hakim, tetangga saya buang sampah di tempat saya.” Yang lain menyahut, “Tanaman tetangga merusak pagar saya. Waktu saya tanya, malah dia yang marah.” Lagi, “Bagaimana dengan saya? Sebelah rumah mengeluh terus. Tak tahan bau amis ikan. Padahal, saya berjualan ikan.”
Hakim
bertanya, “Memangnya tetangga macam apa
yang kalian inginkan?” Jawaban pun berhamburan, “Yang tahu buang sampah di tempatnya sendiri.”
Disusul, “Yang tanaman atau binatang peliharaannya nggak merusak rumah
tetangga.” Masih ada lagi, “Yang rela bau amis karena
tetangganya sedang cari nafkah,” “Yang mau menyapa orang,” “Yang gampang memaafkan kesalahan orang,” “Yang
suka traktir makan,” “Yang suka kirim makanan.”
“Kalau begitu,” sela sang hakim, “mulai hari ini, jadilah tetangga seperti yang kalian inginkan
itu.” Mereka tercenung. Riuh pun mereda.
*
Kawan,
menuntut perubahan dari
diri orang lain bisa
menghabiskan waktu, energi, dan biaya. Sebagai
gantinya, mari menjadi perubahan yang
ingin kita lihat pada diri orang lain
itu. Jika kita
berubah dan orang lain
itu berubah, baguslah. Jika kita berubah, tapi orang lain
tidak, maka setidak-tidaknya kita akan lebih bijak menanggapi kebebalan
manusia.
Be
the change that you wish to see in this world
(Jadilah perubahan yang ingin Anda
lihat di dunia). Suara Mahatma Gandhi ini mengingatkan pada aturan emas yang
sebelumnya telah disuarakan sang Guru
Agung dari Nazaret, “Dan sebagaimana kamu
kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”
(Luk. 6:31).
Selamat menjalani hidup sebagai perubahan yang Anda sendiri
ingin lihat di dunia. Roh Kudus
menyertai.
Komentar
Posting Komentar