Sore. Melihat grup WA perumahan kami. Penuh dengan berita pemasangan pipa air.
Malam.
Melihat grup WA perumahan kami. Dan, mendaftarkan diri secara kolektif. Urutan
#21 dari duapuluhsembilan.
Larut. Terjaga. Melihat grup WA perumahan kami. Ada yang ganjil. Seseorang mendaftarkan diri,
tapi membuat urutan baru di grup. Bukannya bernomor #30, dia sekadar
menyalin-tempel urutan lama. Dia urutan #3. Sementara, pendaftar #4 hingga #29
hilang dari peredaran. Kubiarkan saja. Biarlah di pagi hari menjadi bahan
pengundang senyum para bapak. Toh, nanti akan ada yang memperbaikinya.
Sederhana.
Pagi.
Melihat grup WA perumahan kami. Seseorang telah membenarkan posisi urutan
pendaftaran. Tanpa kata. Silent mode. Sederhana. Kecil saja energi yang
dibutuhkannya. Tapi, kasih dan kepedulian yang ditunjukkan perbuatan kecil itu
sungguh besar. Mulia.
Tertusuk hati ini. Telah diberi kesempatan memperbaiki kesalahan, tapi menyia-nyiakannya. Lalu, melihat orang lain mengambil kesempatan itu.
Dan, makin tertusuk oleh kenyataan bahwa “orang baik”
itu bukan seorang ‘Yerusalem.’ TUHAN memberkati Anda, pak, yang telah
dipakai-Nya untuk mengingatkan saya.
Jadi jika
seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia
berdosa (Yak. 4:17).
Komentar
Posting Komentar