Langsung ke konten utama

Pusing 'Mikirin' Masak Soto

Istriku dan aku sedang berada di dapur. Kami bekerja bersama. Aku membantunya membersihkan ini dan itu. Sementara, istriku berfokus pada mempersiapkan makan malam.

Aku bertanya, “Masak apa, Ma?”

Dia menjawab, “Soto, Pa.”

Ampun, deh. Bakalan lama, nih. Benakku berkutat dengan waktu yang dibutuhkan istriku untuk memasak soto dengan jadwal keluarga kami untuk bermezbah bersama.

Aku bertanya, “Bisa semalaman, nih, Ma.”

Dia menjawab, “Nggak, Pa. Sudah kupersiapkan semua. Bumbu-bumbu sudah siap. Ayam juga. Tinggal masak saja.”

Bagaimana caranya bisa secepat yang istriku yakini? Sebab, lagi-lagi benakku berkutat dengan cara memasak soto, plus secepat itu lagi.

Ujung-ujungnya, aku pusing sendiri. Lalu, terbetiklah di hatiku: Kenapa kau ikut mikir? Pusing sendiri. Sebab, kau toh tak tahu cara masak, apalagi masak soto. Sudahlah, percaya saja pada istrimu. Dia tahu. Kau percaya saja.

Aku berkata, “Ma, pusing sendiri aku mikirin cara masak soto, apalagi secepat yang mama bilang. Sudah, aku percaya sama kamu. Aku selesaikan saja tugasku sendiri. Be blessed, sayang.”

Istriku tersenyum.

*

Banyak kali kehidupan Kristen kita seperti itu:

Berdoa kepada TUHAN dan meminta-Nya melakukan sesuatu. Kemudian, setelah “…hamba serahkan ke dalam tangan-Mu yang perkasa, amen,” kita malah bertanya dalam hati, Bagaimana cara-Mu melakukannya, TUHAN? Dan, kita mulai menebak-nebak cara-Nya.

Ini bikin pusing diri sendiri. Malah mungkin juga merepotkan bagi TUHAN. Bukankah tadi dalam doa sudah diserahkan, mengapa diminta lagi untuk dipikirkan sendiri? Di titik inilah, di titik setelah berdoa dan menyerahkan, kita perlu mempercayakan jawaban doa itu kepada TUHAN. Percaya saja. Serahkan kepada TUHAN. Daripada ikut mikirin, malah pusing sendiri. Kerjakan saja bagian kita: menyerahkan dan mempercayakan itu termasuk bagian kita, lho.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Ptr. 5:7).

Sudah, nggak usah lagi nanya: Bagaimana cara-Mu memelihara aku, TUHAN? Kerjakan saja bagian kita, karena TUHAN pasti mengerjakan bagian-Nya.

Sda, sore 15 Okt 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...