Pisang di dalam botol berleher sempit.
Monyet akan mengingini
dan memasukkan tangan demi mengambilnya.
Masalahnya, leher botol
terlalu sempit untuk tangan yang menggenggam pisang itu. Ia harus melepaskan
genggaman pada pisang demi tangannya bisa keluar. Tapi, itu akan membawa
masalah juga: tidak mendapat apa yang ia inginkan, yaitu pisang.
Masalah lain sedang
mendekat: pemburu yang siap menangkap.
Pilih mana, Nyet?
Menggenggam pisang atau lepas dari perangkap?
Kalau dipikir lebih
panjang, jawabannya jelas. Ini bukan situasi pilihan. Karena, memang tidak ada
pilihan. Simak saja: pisang di tangan si monyet tidak akan bisa ia nikmati. Mengapa?
Karena, ia tak bisa mengeluarkannya dari botol. Leher botol terlalu sempit.
Lalu, bagaimana pula si monyet bisa memakannya? Satu-satunya pilihan adalah
melepaskan pisang dari genggaman supaya ia terlepas dari perangkap. Selamat.
Situasi berbeda:
Dosa di dalam dunia.
Manusia akan mengingini
dan memasukkan tangan demi mengambilnya.
Apakah dia sedang
memanfaatkan dunia demi kesenangannya? Ataukah dia yang sedang diperbudak
penguasa dunia dalam dustanya?
Pilih mana, Manus?
Menggenggam dosa atau lepas dari perangkap?
Pikir sedikit lebih
panjang. Tak ada pelaku dosa yang tegak berdiri sebagai manusia merdeka. Mereka
budak belaka diinjak-injak si jahat musuh manusia. Lepaskan genggaman pada dosa
dan loloslah dari perangkap. Selamat.
*
Monyet di atas tak akan
mendapat pisang. Manusia di atas tak akan mendapat dunia. Keduanya hanya akan
beroleh kematian di ujung jalan. Untung bagi si monyet, kematiannya tak akan
kekal.
Teringat sabda sang
Juruselamat: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh
dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya
sebagai ganti nyawanya? (Mrk. 8:36-37).
Komentar
Posting Komentar