Langsung ke konten utama

PERANGKAP MONYET

Pisang di dalam botol berleher sempit.

Monyet akan mengingini dan memasukkan tangan demi mengambilnya.

Masalahnya, leher botol terlalu sempit untuk tangan yang menggenggam pisang itu. Ia harus melepaskan genggaman pada pisang demi tangannya bisa keluar. Tapi, itu akan membawa masalah juga: tidak mendapat apa yang ia inginkan, yaitu pisang.

Masalah lain sedang mendekat: pemburu yang siap menangkap.

Pilih mana, Nyet? Menggenggam pisang atau lepas dari perangkap?

Kalau dipikir lebih panjang, jawabannya jelas. Ini bukan situasi pilihan. Karena, memang tidak ada pilihan. Simak saja: pisang di tangan si monyet tidak akan bisa ia nikmati. Mengapa? Karena, ia tak bisa mengeluarkannya dari botol. Leher botol terlalu sempit. Lalu, bagaimana pula si monyet bisa memakannya? Satu-satunya pilihan adalah melepaskan pisang dari genggaman supaya ia terlepas dari perangkap. Selamat.

Situasi berbeda:

Dosa di dalam dunia.

Manusia akan mengingini dan memasukkan tangan demi mengambilnya.

Apakah dia sedang memanfaatkan dunia demi kesenangannya? Ataukah dia yang sedang diperbudak penguasa dunia dalam dustanya?

Pilih mana, Manus? Menggenggam dosa atau lepas dari perangkap?

Pikir sedikit lebih panjang. Tak ada pelaku dosa yang tegak berdiri sebagai manusia merdeka. Mereka budak belaka diinjak-injak si jahat musuh manusia. Lepaskan genggaman pada dosa dan loloslah dari perangkap. Selamat.

*

Monyet di atas tak akan mendapat pisang. Manusia di atas tak akan mendapat dunia. Keduanya hanya akan beroleh kematian di ujung jalan. Untung bagi si monyet, kematiannya tak akan kekal.

Teringat sabda sang Juruselamat: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mrk. 8:36-37).

Sda 19 Okt 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...