Maka Haman menceriterakan kepada mereka itu besarnya kekayaannya, banyaknya anaknya laki-laki, dan segala kebesaran yang diberikan raja kepadanya serta kenaikan pangkatnya di atas para pembesar dan pegawai raja (Est. 5:11, LAI-TB).
Mari kita daftar apa saja yang dimiliki Haman hingga titik ini:
- kekayaan besar,
- anak lelaki banyak,
- kebesaran dari raja,
- kenaikan pangkat di atas para pembesar dan seluruh pegawai kerajaan.
Singkatnya, Haman memiliki segalanya. Kecuali, jiwanya.
*
Mari kita dengar sendiri dari mulut Haman:
Akan tetapi semuanya itu tidak berguna bagiku, selama aku masih melihat si Mordekhai, si Yahudi itu, duduk di pintu gerbang istana raja" (Est. 5:13, LAI-TB).
Kepuasan Haman terusik oleh seorang dari negeri terbuang yang lebih rendah dalam berbagai perkara yang telah dipamerkannya di hadapan para sahabat. Jiwanya resah oleh seorang lelaki yang mewakili bagian dari dunia yang tidak tunduk kepadanya (bdk. Est. 3:4).
Seluruh kekayaan, keluarga, dan kebesaran tidak punya arti bagi Haman. Panas hati menutupi akal sehat dan membuatnya membenci seluruh bangsa (Est. 3:2-6). Haman ingin Mordekhai, dan semua orang Yahudi, punah. Dengan ini, kejatuhan Haman sudah bisa dipastikan. Ia telah memilih lawan yang tak seimbang. TUHAN-lah yang menjadi lawannya.
Haman empunya segala, namun mata tertuju pada seorang pelayan asing yang kecil rendah dari negeri terjajah. Salah langkah.
What a ridicule the heart of a man could be.
Cat.: Di Ester 5:11, teks LXX tidak mencatat Haman menunjukkan “banyaknya anak laki-laki” sebagaimana Masorah, meski di fatsal 9:7-10 fakta ini dicatat oleh kedua sumber.
Komentar
Posting Komentar