Langsung ke konten utama

HOW TO CHOOSE WHICH TO CHOOSE?

Jack Ma, Chinese entrepreneur: If you put bananas and money in front of monkeys, monkeys will choose bananas because monkeys do not know that money can buy a lot of bananas. In reality, if you offer job and business to people, they would choose job because most people do not know that business can bring more money than wages. Profit is better than wages, for wages can make you a living but profits can bring you a fortune. 




I’m taking quite more than enough quote up here just to make sure we have sufficient context to check. But, what he had said rang a bell in me. Spiritually speaking, of course.

Monkeys, unlike us, don’t know the worth of money. They naturally, automatically, will choose bananas over money. How about us, humans? Do we think we have enough perspective to make the right choice? No, we don’t. In cases dealing with things more than “bananas and money,” we, earthborne-humans, don't know which to choose. 

So, how do we know which?

Let's get back to Jack.


If only monkeys knew what we know, saw what we see, thought the way we think, they would choose money more than bananas. This is the main idea.

Now, how about us? More than monkeys’ perspective, there is ours, humans’. More than our earthly perspective, what’s there? Yap! The Creator, God.

Let's put the main idea here:


If only humans knew what God knows, see what God sees, thought the way God thinks, we would then choose more than bananas… 

we would choose more than mere wealth, beauty, fame, power, intelligence… 

we would choose what God has in His mind to offer us… 

we would choose Him.

And Himself is the all-best-ever He could offer. Nothing less than that, and certainly nothing is more than that.

Would you take that? Would you take what He has to offer?

For God so loved the world, that he gave his one and only Son, that whoever believes in him should not perish, but have eternal life (John 3:16, World English Bible).


Well, at the very least of our discussion here, you know how to choose which to choose in a simply logical way, the monkey and bananas way, the higher perspective way.

Be blessed, be blessing.

(Paksi EP, Sda, 27 Des 2024)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIGA PERMINTAAN

Kalau saya beri Anda tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? 1. Sehat. 2. Ekonomi lancar. 3. Ehm, ehm… Di titik ini, nih, orang mulai berpikir lama. Mengapa? Sebab, hanya diberi tiga permintan, jadi sebaiknya minta yang benar-benar akan mengubahkan hidup. Jadi, minta apa? Ehm… sebentar. Apa ya? Tunggu, tunggu, minta apa ya? (sambil masih terus mikir …) Bisakah saya bantu beri saran? Apa? Bagaimana kalau Anda minta “tiga permintaan lagi”? Hahaha, bagus juga. Ya, benar. Saya minta tiga permintaan lagi. Bagus, pilihan bijak. * Bukan, ini bukan tentang keserakahan, kerakusan, ketamakan. Ini manusiawi. Karena, ada banyak kebutuhan dan keinginan. Diberi tiga permintaan, dan yang terakhir meminta tiga permintaan lagi . Ini masuk akal, dapat dimengerti, termaklumi. Dalam tiga permintaan, kita diberi batasan. Hanya tiga permintaan. Hingga kita tersadar, dan di permintaan ketiga meminta tiga permintaan lagi . Kita kemudian memperluas batasan itu. Kita mendapat tiga kesempa...

PAK CHOY: DALAM PROSES

Melihat semaian benih pak choy (sawi sendok) yang baru berumur sepuluh hari, seorang rekan berkata kepada si petani: “Pak, apa benar ini pak choy ? Koq beda banget? Kenapa daunnya nggak menempel di tanah?” Petani itu tersenyum dan berujar, “Ya jelas beda, to Bu. Khan yang ini semaian baru, belum dewasa seperti yang biasa Ibu lihat di pasar.” * Kawan, pak choy yang kita lihat di pasar adalah versi dewasa dan siap dikonsumsi. Sementara, yang rekan saya lihat tadi adalah pak choy muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Meski berbeda, tapi keduanya sama-sama pak choy . Mengingatkan pada anak-anak atau generasi masa depan kita. Mereka saat ini bukanlah versi dewasanya. Jadi, hindari menghakimi mereka menurut pandangan kekinian kita. Ingat, mereka bisa menjadi begitu berbeda dengan tampakan masa kecilnya. Tugas kita adalah mendidik mereka di jalan Kristus, supaya saat dewasa, mereka siap menggenapi panggilan TUHAN. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada m...

TUHAN KENA GETAHNYA

Ketika anak kita berkelahi secara fisik dengan kawannya, kita tentu melerai mereka. Ketika anak kita bermain-main dengan pisau dapur, kita segera mengambil pisau itu darinya. Tetapi, tak jarang, anak itu meronta dan justru marah kepada kita. Papa jahat! atau Mama jahat! bisa dengan mudah terlontar dari mulut mereka. Terpikir kemudian oleh kita, Apa, sih, salahku? Bukankah aku menolongnya dari kerugian yang lebih besar? Bukan. Bukan salah kita. Secara alami, anak-anak baru mampu memahami kebaikan orangtuanya melalui dukungan positif. Mereka belum memahami kebaikan orangtua lewat tindakan pencegahan, yaitu memasang larangan ketika mereka berbuat sesuatu yang berujung pada keburukan. * Kristen kanak-kanak mirip dengan anak-anak itu. Ketika melakukan perbuatan salah dan berujung keburukan, TUHAN mencegahnya. Tapi, apa yang mereka lakukan? Mereka justru marah, kecewa, dan pahit pada TUHAN. TUHAN jahat! kata mereka. Bukan. Bukan salah TUHAN. Dia hanya kena getahnya. Manusia ker...